Ketika Syukur Menyapa di Tengah Kabut
Catatan ringan dari perjalanan Padang – Surabaya – Bromo di RLF Kappija21
Bayangkan suasananya: sore hari di Bromo. Kabut turun perlahan seperti tirai, hujan rintik-rintik membasahi jaket, dan udara dingin menggigit sampai ke tulang. Tapi anehnya, semua rasa dingin itu langsung hilang ketika melihat wajah-wajah bahagia para peserta RLF 2025 yang akhirnya sampai di puncak acara RLF.
Di antara mereka, ada Kak Asrina dari Pengda Sumatera Barat. Senyumnya tenang, langkahnya ringan, seolah perjalanan jauh dari Padang tidak terasa. Ada sesuatu di wajahnya: syukur yang penuh.
Saya sempat menonton rekaman videonya yang dibuat saat kabut makin menebal. Suaranya pelan tapi dalam, seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama dicari.
“Apa pun saya syukuri.” Kalimat sederhana yang menghangatkan.
Ketika bercerita, Kak Asrina berkata dengan nada yang santai saja, tapi rasanya menembus:
“Apapun yang terjadi saya syukuri. Bisa sampai di sini adalah rahmat Allah.”
Di Bromo yang dingin, kalimat itu terasa hangat. Lalu ia menambahkan:
“Allah ciptakan dunia ini untuk manusia. Jadi kalau ada kesempatan untuk jalan, itu anugerah.”
Kadang kita lupa hal sederhana itu. Kita terlalu sibuk mengejar banyak hal, sampai lupa mensyukuri langkah-langkah kecil yang membawa kita bertemu orang baik, suasana baru, dan pelajaran hidup.
Dan mungkin itu esensi RLF kali ini: memimpin diri sendiri untuk tetap bersyukur.
Pertemuan yang Tidak Direncanakan, Tapi Sudah Tertulis
Lalu ada cerita yang membuat hati ikut mencair.
Di penginapan, Kak Asrina sekamar dengan Kak Ani. Obrolan awalnya biasa saja, seperti dua teman lama yang baru sempat bertemu. Tapi semakin banyak bercerita, tiba-tiba muncul satu kesamaan yang bikin merinding:
Keduanya punya akar keturunan Mandailing.
Awalnya hanya saling menyapa di Facebook. Tidak pernah terbayang akan bertemu langsung, apalagi di tengah kabut dan dinginnya Bromo sore hari.
“Saya menangis,” kata Kak Asrina lirih.
“Allah pertemukan kami seperti ini.”
Acara sebesar RLF tiba-tiba berubah menjadi ruang kecil yang intim. Bukan lagi soal networking atau forum regional, tapi soal menemukan kembali persaudaraan yang ternyata sudah lama terhubung di suatu tempat yang tidak terlihat.
Inilah Kappija21—platform yang luas, tapi hatinya tetap pulang pada nilai persaudaraan.
Nikmat dan Bencana: Dua Ujian yang Sama
Menjelang akhir videonya, Kak Asrina menyelipkan satu hikmah yang terasa pas sekali didengar di puncak Bromo. Ia mengutip Ali bin Abi Thalib:
“Nikmat dan bencana itu sama saja; dua-duanya ujian. Tinggal bagaimana kita bersikap.”
Di tempat seindah itu—yang juga menyimpan potensi bahaya—kalimat itu terasa tepat. Hidup memang begitu. Kadang kita berada di puncak, kadang di lembah. Tapi sikap kitalah yang menentukan arah.
Kepemimpinan bukan hanya soal memimpin program besar, tapi juga memimpin diri sendiri saat diuji oleh keadaan.
Perjalanan yang Pulang ke Hati
Dari Padang ke Surabaya, lalu ke Bromo, Kak Asrina membuktikan bahwa perjalanan bukan soal jarak. Perjalanan adalah soal hati yang siap menerima apa pun yang dijumpai—cuaca, teman baru, hikmah kecil, bahkan kejutan tentang asal-usul sendiri.
Dan RLF Kappija21 tahun ini bukan hanya sukses membawa para alumni ke puncak Bromo, tapi juga berhasil membawa mereka kembali pada makna syukur dan silaturahim yang hangat.
Selamat untuk Kak Asrina.
Dan selamat untuk Kappija21, yang sekali lagi membuktikan bahwa setiap pertemuan selalu punya cerita.
