“Kappija: Rumah Bersama bagi Semua Generasi”
Catatan Dr. Fachruddin Tukuboya (Alumni Kappija 2003)
Bagi bang Fachruddin Tukuboya, menghadiri rangkaian kegiatan Kappija 2025 bukan sekadar memenuhi undangan seremonial atau menjalankan agenda organisasi. Ada rasa yang lebih mendalam—perpaduan antara kebanggaan dan haru—saat menyaksikan Kappija terus bertumbuh tanpa sedikit pun kehilangan jati dirinya.

Sebagai alumni angkatan 2003, ia merasakan betul bahwa semangat kebersamaan dan idealisme yang dulu menjadi fondasi organisasi, kini tetap terjaga dan tidak pernah benar-benar pudar.
“Yang paling saya rasakan adalah rasa bangga sekaligus haru. Kappija 2025 membuktikan bahwa api kebersamaan dan idealisme itu tidak pernah padam,” tuturnya.
Wajah Baru, Ruh yang Sama
Hal yang menarik perhatiannya adalah bagaimana semangat tersebut kini hadir dengan wajah yang lebih segar. Lebih terbuka dan relevan dengan tantangan zaman, namun tetap berpijak pada ruh kekeluargaan yang telah lama menjadi ciri khas Kappija.
Di tengah padatnya jadwal RLF, NLF, IYLA, Rapimnas, hingga Munas, momen yang paling membekas justru bukanlah seremoni besar. Baginya, titik balik emosional terjadi saat semua sekat birokrasi runtuh dan semua orang duduk setara.
“Momen yang paling khas dari Kappija adalah ketika diskusi berlangsung tanpa sekat. Alumni, pengurus, hingga adik-adik peserta duduk sejajar, saling mendengar, dan saling belajar. Di situlah saya merasa Kappija benar-benar hidup—bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah RUMAH BERSAMA.”
Sinergi Lintas Generasi
Suasana inklusif ini menciptakan kehangatan tanpa jarak kaku antara senior dan junior. Bang Fachruddin melihat adanya harmoni peran yang saling melengkapi:
Alumni Senior: Hadir sebagai pendengar yang bijak dan penyemangat.
Pengurus: Tampil penuh percaya diri mengelola roda organisasi.
Peserta Muda: Membawa keberanian gagasan dan energi baru.
“Ini adalah kombinasi yang sehat dan sangat menjanjikan bagi keberlanjutan masa depan Kappija,” tambahnya.
Kekuatan dalam Relasi Manusia
Dari seluruh rangkaian pengalaman tersebut, bang Fachruddin menarik satu esensi penting: kekuatan sejati Kappija tidak terletak pada struktur formal atau program kerja, melainkan pada kualitas relasi antarmanusianya.
“Kappija kuat bukan karena struktur semata, tetapi karena rasa saling memiliki. Selama dialog, solidaritas, serta keberpihakan pada pengembangan diri dan pengabdian sosial terus dijaga, Kappija akan tetap relevan di setiap zaman.”
Pesan untuk Masa Depan
Menutup catatannya, ia menitipkan pesan mendalam bagi generasi penerus—sebuah wasiat yang lahir dari pengalaman panjang dan kecintaan tulus pada organisasi:
“Rawatlah Kappija dengan hati, bukan hanya dengan program. Jangan takut berbeda pendapat, tapi jangan pernah kehilangan rasa hormat. Jadilah generasi yang kritis, beretika, dan tetap membumi—karena dari situlah Kappija akan terus tumbuh dan memberi makna bagi sesama.”
(Humas Kappija21)
