Pertemuan Hati
Oleh: Kamilah Sa’diah, S.E., M.Ak.
Universitas Binaniaga Indonesia
Setiap kali ikut kegiatan Kappija 21, selalu ada cerita yang membekas. Bukan cuma soal acara atau agenda rapat, tapi soal momen-momen kecil yang perlahan jadi kenangan. Perasaan ini muncul lagi di Regional Leadership Forum (RLF) ke-29 kemarin, yang terasa lebih spesial karena bertepatan dengan ulang tahun ke-40 Kappija 21.

Di momen ini, saya kembali sadar betapa beruntungnya punya relasi yang sudah seperti keluarga sendiri. Bukan sekadar rekan kerja atau teman organisasi, tapi sudah seperti kakak dan sahabat.
Berawal dari Cerita di Kamar
Semuanya dimulai dari hal sederhana. Teman sekamar saya kebetulan satu kamar dengan Sister Michiko Nakayama dari Jepang. Dari sana, kami mulai ngobrol. Bahasanya campur aduk, pakai bahasa Inggris seadanya, dibantu gerak tangan, dan banyak senyum. Rasanya langsung akrab, tidak ada rasa canggung sama sekali.
Kedekatan ini berlanjut saat jamuan makan malam. Kami duduk dan mengobrol dengan Mr. Yoshimasa Sumiya dan putranya, Makoto Sumiya.
Ngobrol Apa Adanya
Topik obrolan kami sebenarnya ringan saja—soal perjalanan, keluarga, dan budaya masing-masing. Kadang kami harus berhenti sebentar untuk buka Google Translate supaya tidak salah paham. Meski bicaranya pelan dan terbata-bata, justru di situlah letak kehangatannya. Kami benar-benar berusaha saling memahami.
Rindu yang Tiba-tiba Hadir
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba ada perasaan emosional yang muncul. Entah kenapa, sosok Mr. Yoshimasa—cara dia bicara dan ketenangannya—mengingatkan saya pada almarhum Ayah.
Awalnya saya coba tahan, tapi perasaan itu makin kuat sampai akhirnya air mata saya jatuh begitu saja. Saya rindu Ayah, dan sosoknya seolah hadir di sana, di depan saya, meski kami bicara dengan bahasa yang berbeda.
Menjadi Keluarga Baru
Dengan suara agak bergetar, saya bilang pelan, “You look like my father, but he passed away two years ago.” Karena ruangan cukup ramai, Mr. Yoshimasa tidak terlalu dengar, tapi Makoto menangkap ucapan saya. Dia lalu menjelaskan ke ayahnya dengan nada yang sangat lembut.
Sejak saat itu, suasana langsung berubah. Kami bukan lagi sekadar tamu antar-negara, tapi terasa seperti keluarga yang baru dipertemukan. Saya lalu memberanikan diri bertanya, “May I call you Dad, or Chichioya?” Beliau menjawab dengan sangat hangat, “Of course, Kamilah-san.”

Pagi yang Hangat dan Janji untuk Bertemu Lagi
Besok paginya saat sarapan, kami bertemu lagi. Obrolannya jauh lebih santai, bahas makanan Indonesia yang enak dan bercanda sedikit. Saya juga bilang ke Makoto, “Can I call you my brother?” Dia tersenyum dan menjawab, “Okay, sister.”
Waktu terasa cepat sekali lewat. Sebelum naik ke bus untuk pulang, Mr. Yoshimasa sempat berpesan, “Kamu dan teman-teman harus ke Jepang. Main ke rumah, kami tunggu.”
Saya mengangguk sambil menahan haru. Dalam hati saya berdoa, kalau nanti Allah kasih jalan ke Jepang, saya pasti akan menemui “Ayah” dan “Saudara” saya ini. Tidak ada yang tidak mungkin kalau niatnya baik.
Makna di Balik RLF
Bagi saya, RLF ke-29 dan ulang tahun Kappija 21 kali ini bukan cuma soal kepemimpinan atau jaringan internasional. Di balik semua acara resmi itu, ada hal yang jauh lebih berharga: PERTEMUAN HATI.
Ini jadi pengingat buat saya bahwa rasa kemanusiaan itu tidak butuh bahasa yang sempurna. Allah selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan kita dengan orang-orang yang memberikan makna baru dalam hidup.
