Alumni Nakasone

Memori Nakasone: Dari Shinjuku hingga Makan Bergizi Gratis (MBG)

Affan Pasaribu, Alumni Kappija21

Jam 9 pagi ini, 16 Februari 2026, udara terasa cukup sejuk dengan sisa rintik hujan subuh yang masih membekas. Sebuah notifikasi di Facebook muncul, mengingatkan kembali kunjungan saya ke Jepang persis 11 tahun silam—momen yang sangat berkesan saat saya masih jauh lebih muda dibanding sekarang.

 

Ingatan saya melayang ke satu hari di Markas Besar JICA, Shinjuku, Tokyo. Saat itu, kami para alumni Program Nakasone dari negara-negara ASEAN diundang dalam seminar khusus. Salah satu topik yang sangat membekas hingga hari ini adalah “The 3-1-2 Meal Box Magic”.

3 bagian Shushoku (Makanan Pokok): Nasi atau biji-bijian sebagai sumber energi utama

Berkat pengingat Facebook yang menampilkan kembali slide seminar dari Adachi Miyuki (ICD 2008) tersebut, saya kembali mencerna esensi dari pola makan sehat ala Jepang ini.

Filosofi di Balik “Meal Box Magic”

Seminar tersebut menjelaskan bahwa konsep 3-1-2 bukan sekadar angka, melainkan rasio volume untuk mencapai keseimbangan gizi yang optimal dalam satu kotak makan. Sederhananya, komposisinya adalah:

  • 3 bagian Shushoku (Makanan Pokok): Nasi atau biji-bijian sebagai sumber energi utama.

  • 1 bagian Shusai (Lauk Utama): Ikan, daging, atau telur sebagai sumber protein.

  • 2 bagian Fukusai (Lauk Pendamping): Sayuran, kentang, jamur, atau rumput laut untuk memenuhi kebutuhan mineral, vitamin, dan serat.

 

3 bagian Shushoku (Makanan Pokok): Nasi atau biji-bijian sebagai sumber energi utama
3 bagian Shushoku (Makanan Pokok): Nasi atau biji-bijian sebagai sumber energi utama
3 bagian Shushoku (Makanan Pokok): Nasi atau biji-bijian sebagai sumber energi utama
3 bagian Shushoku (Makanan Pokok): Nasi atau biji-bijian sebagai sumber energi utama

Konsep ini sangat cerdas karena menggunakan parameter volume, bukan berat, sehingga sangat mudah diterapkan oleh siapa saja tanpa perlu timbangan dapur. Selain itu, konsep ini menekankan penggunaan bahan lokal (locally grown products) dan mendukung gaya hidup Slow Food yang mempererat kebersamaan keluarga saat menyiapkan makanan bersama.

Relevansinya dengan Makan Bergizi Gratis (MBG)

Melihat kembali detail slide tersebut, saya seketika teringat pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang digalakkan pemerintah kita. Kebetulan, saya pernah berkesempatan menikmati paket MBG bersama siswa SMAN 1 Matauli di Pandan.

Ternyata, prinsip dasar yang kita terapkan memiliki kemiripan yang luar biasa dengan standar Jepang. Fokus pada keseimbangan karbohidrat, protein, dan serat—yang juga sudah lama diterapkan di asrama Matauli—rupanya adalah kunci kesehatan global. Dalam slide JICA disebutkan bahwa pola ini menciptakan hubungan yang harmonis antara kebutuhan nutrisi, jenis bahan makanan, dan kelestarian lingkungan.

Saya bergumam syukur, Alhamdulillah. Ternyata langkah pemerintah melalui MBG sudah berada di jalan yang benar (on the right track). Pola makan asrama Matauli pun terbukti telah memenuhi standar kualitas hidup yang dianjurkan secara internasional.

Affan Pasaribu
Alumni Program Nakasone

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Alumni Nakasone