Persiapan Dadakan RLF ke-29 Surabaya: Ketika Krisis Dipaksa Menjadi Prestasi

Ada momen-momen tertentu ketika sebuah organisasi tidak hanya diuji oleh rencana, tapi oleh keadaan. Bagi Kappija21, tahun 2025 adalah tahun di mana kami berhenti sejenak untuk bernapas, lalu dipaksa berlari kencang menyambut sejarah.
Kejutan dari Thailand: “Indonesia, Tolong Ambil Alih!”
Awalnya, semua berjalan sesuai rencana. Panitia sedang asyik-asyiknya meramu National Leadership Forum (NLF). Agenda sudah rapi, logistik aman, dan ritme kerja masih dalam kendali. Tapi, dunia organisasi memang suka memberi kejutan.
Hanya sebulan sebelum hari-H, sebuah kabar darurat datang dari Thailand. Karena situasi dalam negeri dan konflik saudara yang memanas, mereka terpaksa membatalkan status sebagai tuan rumah Regional Leader Forum (RLF) ke-29. Malaysia sempat menawarkan diri, tapi beberapa negara peserta justru menoleh ke arah kita. Mereka meminta—atau lebih tepatnya memberi mandat penuh kepercayaan—agar RLF dipindahkan ke Indonesia, disatukan dengan NLF di Surabaya.
Bayangkan: Dari acara skala nasional, tiba-tiba menjadi perhelatan regional ASEAN-Jepang dalam waktu hanya 30 hari. Panik? Tentu. Tapi menyerah bukan DNA kami.
Di Balik Layar: Kurang Tidur, Banyak Harapan
Jangan bayangkan proses ini semulus postingan di Instagram. Di balik layar, panitia harus jungkir balik. Mengatur protokol internasional, mengurus delegasi tujuh negara, hingga merombak konsep acara dalam waktu singkat adalah resep sempurna untuk sakit kepala.

Di balik layar RLF, rapat pematangan ini menjadi ruang paling jujur. Waktu yang menekan, diskusi yang tajam, dan satu tekad bersama—bertaruh dengan waktu demi menjaga marwah bangsa dan kepercayaan internasional
Ada kelelahan yang nyata, perdebatan yang tajam di ruang rapat, hingga momen-momen ragu saat melihat jam yang terus berdetak. Namun, di tengah keterbatasan itulah keajaiban muncul. Komunikasi yang tadinya kaku menjadi cair, koordinasi yang longgar menjadi rapat. Kami tidak lagi bicara tentang “tugas siapa”, tapi tentang “marwah bangsa”. Kami bertaruh dengan waktu demi menjaga kepercayaan internasional yang sudah diletakkan di pundak Kappija 21.
Surabaya, Bromo, dan Denyut yang Kembali
Hasil dari “kegilaan” 30 hari itu terbayar lunas pada 4–7 Desember 2025. Surabaya, Probolinggo, hingga dinginnya Bromo menjadi panggung besar bagi kembalinya energi Kappija 21.
Dalam satu tarikan napas, RLF, NLF, IYLA, Rapimnas, hingga Munas berkumpul menjadi satu. Kami melihat delegasi ASEAN-Jepang, para alumni senior, hingga pengurus daerah dari berbagai provinsi duduk bersama. Suasananya luar biasa. Ada kerinduan yang sama: menghidupkan kembali Kappija bukan sebagai organisasi nostalgia, tapi sebagai jaringan strategis yang relevan bagi zaman.

Rapimnas: Berhenti Menunggu, Mulai Mencipta
Di ruang Rapimnas, kami bicara jujur. Kappija sadar bahwa pola lama sudah usang. Kita tidak bisa lagi hanya menjadi “penerima” program dari Jepang. Kita harus beralih menjadi “pencipta peluang”.
Gagasan progresif pun muncul, seperti pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) atau LPK untuk mendukung SDM kita. Dan puncaknya, melalui Munas yang demokratis dan penuh kekeluargaan, Dr. Sjahriati Rochmah kembali dipercaya sebagai Ketua Umum periode 2026–2029. Sebuah regenerasi yang tidak hanya di atas kertas, tapi hidup dalam semangat persaudaraan yang murni.

Jejak Sosial di Pasir Bromo
Acara ini tidak berakhir di meja rapat yang kaku. Dari kunjungan penuh empati di RS Menur Surabaya, hingga aksi tanam pohon bersama Suku Tengger di bawah langit Bromo yang megah—semuanya merangkai satu pesan: Kappija 21 telah bangkit dengan cara yang lebih manusiawi dan peduli lingkungan.

Menulis Bab Berikutnya
Kini, perjalanan baru benar-benar dimulai. Kami membawa pulang mandat besar untuk memperkuat jejaring internasional dan menyusun pola kegiatan yang lebih “nyambung” dengan kebutuhan generasi muda.
Apa yang bermula dari situasi darurat di Thailand, justru berakhir menjadi lompatan sejarah yang membanggakan bagi Indonesia. Kami membuktikan bahwa di usia 40 tahun ini, Kappija 21 tidak sedang menua, melainkan sedang menemukan kemudaan barunya—lebih adaptif, lebih fleksibel, dan jauh lebih berarti.
Kappija 21 melangkah ke ketinggian baru. Bersama. Lebih kuat. Lebih berarti. (humas Kappija21)
