Alumni Nakasone

Garuda di Dada, Cerita di Balik Napak Tilas ke Jepang

Ada yang bilang kalau jarak itu cuma soal angka, tapi buat saya, perjalanan ke Jepang 15 April lalu adalah soal rasa. Sebagai alumni KAPPIJA 21 angkatan 1996, kembali lagi ke sana setelah hampir 30 tahun itu rasanya seperti pulang ke rumah lama. Ada memori yang mendadak muncul lagi, tapi tentu dengan suasana yang sudah jauh berbeda.

Napak Tilas Jepang: Cerita Alumni KAPPIJA 21 dan Keajaiban Jaket Garuda

Jaket “Sakti” dan Kebanggaan Identitas

Waktu packing, saya kepikiran untuk bawa yang praktis dan ringan saja. Akhirnya pilihan jatuh ke jaket yang saya pakai waktu jadi panitia 40 tahun KAPPIJA 21 tahun 2025 lalu. Jaketnya spesial, dengan sponsor utama dari BPIP dan lambang Garuda yang cukup mencolok di dada.

Bagi saya, KAPPIJA 21 bukan sekadar organisasi. Sejak 1985, wadah ini sudah jadi jembatan persahabatan Indonesia–Jepang. Tahun lalu kita genap berusia empat dekade, sebuah bukti kalau kita konsisten mencetak generasi yang punya wawasan global, tapi tetap “membumi” dengan nilai-nilai Pancasila. Dan siapa sangka, jaket ini justru jadi “pembuka jalan” selama saya di sana.

Dari Sunyinya Gunma ke Riuh Tokyo

Perjalanan kali ini penuh kontras yang menarik. Saya sempat menikmati kedamaian di pelosok Gunma yang tenang, sebelum akhirnya terjun ke dalam hiruk-pikuk Tokyo yang luar biasa energinya. Di tengah dua suasana itu, saya seolah diingatkan kembali pada nilai-nilai yang dulu kita pelajari bareng: soal disiplin, kerja keras yang punya integritas, sampai kepedulian yang tulus.

Tapi yang paling bikin saya tersenyum adalah bagaimana lambang Garuda di jaket saya tiba-tiba berubah jadi “radar” pencari saudara.

Disapa “Saudara” di Tengah Keramaian

Ceritanya mulai di Stasiun Isesaki. Pas saya lagi agak bingung lihat rute ke Tokyo, tiba-tiba ada suara menyapa: seorang pemuda asal Bekasi yang ternyata sudah tiga tahun merantau di Jepang. Nggak berhenti di situ, waktu lagi nunggu kereta di Nakanojo mau ke arah Takasaki, kejadiannya berulang lagi.

“Pak, dari Indonesia ya?”

Kaget? Pasti 😄. Tapi jujur, rasanya hangat sekali. Di negeri orang yang serba asing, disapa dengan bahasa ibu itu rasanya seperti ketemu saudara kandung. Ternyata, pandangan mereka langsung tertuju pada lambang Garuda yang saya pakai.

Garuda: Lebih dari Sekadar Simbol

Momen yang paling menyentuh justru terjadi di Masjid Camii Tokyo. Seorang ibu muda tiba-tiba menyapa saya. Waktu kita ngobrol, ternyata beliau cuma bisa satu-dua kata bahasa Indonesia saja. Di situ saya baru sadar, beliau memberanikan diri menyapa cuma karena lihat lambang Garuda di dada saya.

Rasanya luar biasa ya? Ternyata Garuda bukan cuma simbol di atas kain. Dia adalah identitas, penghubung rasa, bahkan jadi “bahasa” yang bisa dipahami meski kita punya keterbatasan kata.

Tentang Koneksi yang Tak Pernah Putus

Napak tilas ini akhirnya bukan cuma soal jalan-jalan ke tempat bagus, tapi soal merayakan koneksi yang sudah kami mulai sejak 1996. Tentang bagaimana rasanya tetap punya akar yang kuat meskipun kaki kita sedang melangkah di belahan dunia lain.

Terima kasih buat Mas Prima Berlin yang sudah sempat menyapa dan berbagi cerita di sela perantauannya. Senang sekali bisa bertemu di sana. Ternyata benar, sejauh apa pun kita melangkah, identitas dan nilai-nilai yang kita bawa akan selalu punya cara untuk mempertemukan kita kembali dengan jalan pulang.

Salam hangat,

Ahsantany
Alumni KAPPIJA 21 (1996)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top