
Ini tadi terbersit begitu saja dari ingatan saya 😀 Jadi, sebelum kembali lupa, lebih baik segera saya pindahkan ke tulisan yah. Ringan-ringan saja, semoga berkenan membacanya bagi abang kakak alumni semua. 🙏

Ternyata waktu cepat sekali berlalu. Di tahun 2015 yang lalu (sekitar 10 tahun silam), saya dan beberapa kawan berkunjung ke kota Tokyo memenuhi undangan Japan International Cooperation Agency (JICA). Kami hadir di sana dalam rangka perayaan 30 tahun Program Nakasone yang sudah dimulai sejak tahun 1985.
Dalam rangkaian kegiatan itu, ada juga seminar yang diinisiasi JICA bagi para alumni Program Nakasone dari seluruh Asia Tenggara. Topiknya adalah “Disaster Management” dan yang menjadi keynote speaker adalah rekan sesama alumni dari Indonesia, Sdr. Fary Djemy Francis, yang saat itu menjabat sebagai Anggota DPR-RI.
Namanya juga seminar untuk kalangan terbatas dengan waktu singkat hanya 2 jam, tentu pembahasannya ringan-ringan saja. Namun, memang kita perlu banyak belajar pada negara Jepang karena mereka memiliki pengalaman yang sangat kaya soal kebencanaan.
Kepulauan Jepang itu sangat rentan gempa bumi. Jadi bukan hanya kepulauan Nusantara saja yang memiliki “Ring of Fire”, kepulauan Jepang pun demikian. Selain gempa bumi, Jepang sering dilanda tsunami karena letaknya di lautan Pasifik, serta hantaman badai topan (typhoon).
Di luar kedua bencana alam tersebut, Jepang juga pernah mengalami bencana nuklir. Sekitar 80 tahun lalu, Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak oleh bom atom. Bencana nuklir kedua terjadi ketika ada kebocoran pada pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, pasca gempa dan tsunami 11 Maret 2011—sekitar 14 tahun yang lalu.
Di negara kita pun sering terjadi bencana, bahkan sering kali berskala luar biasa mematikan. Letusan Gunung Tambora dan Krakatau tercatat sebagai salah satu yang terdahsyat di dunia. Di zaman purba, ledakan Gunung Toba di Sumatera Utara bahkan menciptakan kaldera sangat besar yang kini menjadi Danau Toba.
Kesiapan dan manajemen kebencanaan di Jepang memang sangat mengagumkan dan layak ditiru. Kebetulan, teman saya di BNPB, Mas Joko Wismoko, adalah sesama alumni Program Nakasone yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Penelitian dan Pelatihan Penanggulangan Bencana. Saat terjadi bencana banjir di Tapanuli Tengah, saya sempat menghubungi beliau, dan beliau memberikan jalan untuk mendapatkan bantuan di BNPB pusat maupun daerah. Namun karena keterbatasan mobilitas, bantuan itu tidak sempat saya realisasikan.
Kenangan kedua tentang kebencanaan di Jepang saya rasakan tahun 2024 kemarin, ketika saya berada di kawasan Shibuya, berdekatan dengan patung memorial Hachiko yang ikonik. Saat itu ponsel saya bergetar sangat kencang. Tidak hanya ponsel saya, ponsel kedua anak saya, Iman dan Ibra, juga bergetar serentak.
Rupanya ada peringatan gempa bumi!
Saya merasa Jepang memiliki sistem peringatan dini atau Early Warning System yang sangat cepat dan canggih. Peringatan muncul sesaat sebelum getaran terasa, memberi waktu krusial bagi warga untuk segera mencari tempat berlindung.
Melihat itu semua, saya tersadar bahwa ketangguhan sebuah bangsa menghadapi bencana bukan hanya soal kecanggihan alat, tapi soal budaya siaga yang sudah mendarah daging. Kita yang tinggal di tanah yang sama-sama rawan ini, sudah semestinya mulai membangun kesiapan yang serupa.
Entah kapan kita bisa seakurat dan setangguh mereka, tapi setidaknya sebagai alumni, kita bisa mulai menyebarkan semangat kesiapsiagaan ini di lingkungan terdekat kita. Sebab pada akhirnya, manajemen bencana yang terbaik adalah kesiapan yang matang sebelum alarm itu berbunyi.