JAKARTA — Bayangkan ratusan anak muda dari Sabang sampai Merauke — dan beberapa dari luar negeri — duduk di depan layar pada Senin sore, 31 Agustus 2026, bukan untuk kelas biasa, tetapi untuk mendengar langsung dari diplomat, pejabat kementerian, dan pakar pertahanan nasional. Itulah yang terjadi di sesi panel daring International Youth Leadership Academy (IYLA) dan National Leader Forum (NLF) 2026 Batch 2 — diikuti lebih dari 100 partisipan melalui Zoom. Temanya bukan sekadar jargon: "Menguatkan Global Voice Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045" — sebuah ajakan serius untuk bertanya, siapkah kita jadi bagian dari perubahan itu?
Acara berlangsung mulai pukul 15.30 WIB, dibuka oleh moderator Dr. Imam Nuraryo, M.A. (Comms.), dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama. Pukul 16.00, moderator membacakan doa pembuka dan memperkenalkan para panelis sebelum sesi utama dimulai. Diskusi dan tanya jawab berlangsung pukul 17.00, dan seluruh rangkaian ditutup dengan foto bersama pukul 17.30.
Pesan Presiden Kappija21: Menyongsong Indonesia Emas 2045
Acara dibuka secara resmi oleh Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LLM — Presiden Kappija21, Staf Ahli Polhankam Kemensetneg RI, sekaligus Ketua ToT Lemhanas 223. Di hadapan perwakilan duta besar negara sahabat, unsur Kemensetneg, Kemenlu, Kemendag, alumni Lemhannas Angkatan 222 & 223, serta jaringan generasi emas, beliau menegaskan bahwa tahun 2045 bukan sekadar angka, melainkan sebuah janji kemerdekaan.
Youth Future Leader and Global Voice
Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya membangun Global Voice — sebagai suara dan harapan negara sahabat kepada Indonesia, sekaligus pengingat agar para pemimpin muda dunia selalu berpegang pada prinsip "be the bridge, not the wall" (menjadi jembatan, bukan tembok pemisah).
Tiga Pesan Utama untuk Generasi Muda:
- Perkuat Akar Identitas Pancasila: Kuatkan jati diri, sejarah, dan nilai-nilai bangsa dari dalam sebelum melangkah mendengarkan dunia.
- Perluas Wawasan Global: Pahami harapan dan perspektif bangsa sahabat, serta adaptasikan kemajuan global untuk kemaslahatan Indonesia.
- Lakukan Aksi Nyata untuk Masa Depan: Ukur kepemimpinan bukan dari banyaknya forum yang dihadiri, melainkan dari seberapa banyak masalah yang diselesaikan mulai dari desa, kampus, hingga komunitas.

IYLA 2026: Bukan Sekadar Acara, Tapi Gerakan
Selaku Ketua Pelaksana, Yudil Chatim, SKM., M.Ed. menyampaikan bahwa IYLA 2026 lahir dari kolaborasi Konsorsium 5 — Kappija21, Lemhannas Angkatan 222 dan 223, Yayasan Sinergi Global Lintas Generasi, serta Yayasan Prakarsa Akademia Generasi Emas (PAGE). Program ini sudah berjalan sejak 30 Agustus 2026 lewat Kelas Online dan Podcast Young Diplomats Forum.
Puncak rangkaian berlangsung pada 26–29 November 2026 di Bandung — melibatkan Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), Museum & Perpustakaan Virajati Seskoad, Gedung Sate, hingga Saung Angklung Udjo, serta ditutup dengan penandatanganan IYLA Declaration 2026.
Dunia Sedang Berubah — dan Kamu Harus Tahu
Saud S.S. Siringoringo dari Direktorat Asia Timur, Kemenlu RI, membawakan sesi "Indonesia's Diplomacy in a Changing World" dengan pesan pembuka yang kuat:
1. Dunia Baru yang Multiplex dan Transaksional
Dunia kini bergerak dengan banyak pusat kekuasaan dan kerja sama antarnegara yang makin transaksional. Kompetisi makin tajam, kepercayaan antarnegara makin tipis.
2. Ketahanan Dinamis: Kebijakan Luar Negeri Dimulai dari Dalam
3. Mempererat Kemitraan di Asia Timur
Indonesia aktif memperkuat posisi strategis melalui kemitraan komprehensif dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
4. Tiga Pesan Kunci untuk Anak Muda
Negara Tidak Perang, Tapi Apakah Kita Aman?
Dr. Widiyarini, M.M., M.T. membuka sesinya dengan menekankan bahwa ancaman modern tidak selalu datang dengan seragam militer, melainkan lewat disinformasi, siber, hingga krisis energi dan iklim.
Melalui kerangka 5C (Character, Critical Thinking, Collaboration, Crisis Readiness, Contribution), Lemhannas RI mendidik pemuda untuk menjadi arsitek aktif ketahanan bangsa.
Ekspor, FTA, dan Kenapa Kamu Perlu Peduli
Ari Satria, S.E., M.A. dari Kemendag RI memaparkan bahwa di balik produk Indonesia di pasar global, ada negosiasi perjanjian perdagangan bebas (FTA/CEPA) yang diperjuangkan. Dengan 25 perjanjian yang telah berlaku dan 33 Perwadag di luar negeri, Indonesia terus membuka akses pasar internasional seluas-luasnya bagi eksportir muda.
Tanya Jawab & Penutup
Dipandu oleh Dr. Imam Nuraryo, M.A., sesi tanya jawab berlangsung interaktif membahas ekosistem pendidikan global, penguasaan bahasa asing, hingga peluang karir internasional. Acara ditutup dengan foto bersama dan kabar gembira mengenai disposisi Menteri Perdagangan untuk keynote speech di UKRI Bandung pada November mendatang.
Profil Narasumber & Pimpinan

Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LLM
Staf Ahli Polhankam Kemensetneg RI & Presiden Kappija21, Ketua ToT Lemhanas 223

Yudil Chatim, SKM., M.Ed.
Atase Pendidikan RI di Beijing, Tiongkok (2022–2026) & Plt. Ketua Global Sinergi Lintas Generasi

Dr. Imam Nuraryo, M.A. (Comms.)
Kepala LPPM IBIKKG & Ketua Prakarsa Academia Generasi Emas

Dr. Widiyarini, M.M., M.T.
Ketua Alumni 222 TOT PPNK Lemhanas, Dosen Unindra

Ari Satria, S.E., M.A.
Direktur Pengembangan Ekspor Jasa & Produk Kreatif, Kemendag RI

Saud S.S. Siringoringo
Direktorat Asia Timur, Kementerian Luar Negeri RI
