Editorial · KAPPIJA 21
Ditulis oleh Humas KAPPIJA 21 · National Leader Forum & IYLA 2026
Ketuk untuk memperbesarAda satu pertanyaan yang, jika dijawab dengan jujur, akan menentukan wajah Indonesia dua dekade ke depan: pemimpin seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan negeri ini untuk sampai ke 2045? Bukan pertanyaan retoris untuk pembuka seremoni, melainkan pertanyaan yang coba dijawab serius oleh KAPPIJA 21 bersama JICA, TNI, dan Lemhannas RI lewat dua kegiatan yang akan digelar berurutan di Bandung dan Jakarta sepanjang paruh kedua 2026: International Youth and Leadership Academy (IYLA) 2026 dan National Leader Forum (NLF) 2026.
Keduanya lahir dari keresahan yang sama. Indonesia Emas 2045 sering dibicarakan sebagai target ekonomi—pertumbuhan, investasi, hilirisasi. Tapi di balik semua angka itu ada satu variabel yang jarang dibahas serius: siapa yang akan memimpin di sana, dan apakah mereka punya kapasitas untuk itu. Krisis iklim, disrupsi AI, dinamika geopolitik yang kian tak terduga, hingga ketegangan ekonomi global—semua ini butuh pemimpin yang bukan sekadar cakap secara teknokratis, tapi adaptif, kolaboratif, beretika, visioner, dan berwawasan global tanpa kehilangan akar kebangsaannya. Itulah lima ciri kepemimpinan yang terus digarisbawahi dalam seluruh rancangan acara ini.
Yang membedakan NLF dari seminar kepemimpinan pada umumnya adalah penolakannya terhadap format seremonial semata. Panitia menegaskan berkali-kali dalam materi mereka bahwa kepemimpinan tidak dibangun di dalam sebuah konferensi, melainkan di dalam sebuah komunitas. NLF diposisikan sebagai gerbang menuju Indonesia Future Leaders Network—bukan titik akhir, melainkan titik mula dari sebuah ekosistem kepemimpinan lintas sektor yang terus bergerak sepanjang tahun, lewat pembelajaran bulanan, mentoring, dan kolaborasi proyek pasca-forum. Prinsip ini konsisten disebut sebagai 365 Days Leadership Journey—bahwa hari-hari pertemuan hanyalah pemantik, bukan keseluruhan cerita.
Perjalanan yang dirancang pun mengikuti alur yang jelas: Connect, Learn, Experience, Commit. Peserta akan tiba dan membangun koneksi informal, kemudian masuk ke sesi-sesi strategis bersama TNI dan Lemhannas soal kepemimpinan nasional di tengah krisis, lalu diajak menyelami nilai kebudayaan lewat Saung Angklung Udjo dan aktivitas sosial, sebelum akhirnya merumuskan komitmen aksi nyata di penghujung acara. Setiap harinya punya capaian yang terukur—bukan sekadar rangkaian sambutan, tapi perjalanan yang setiap tahapnya dirancang untuk meninggalkan bekas.
Sebelum NLF berlangsung, IYLA sudah lebih dulu bergerak lewat rangkaian kelas daring dan podcast dua mingguan bertema diplomasi, negosiasi multilateral, hingga simulasi sidang PBB dan ASEAN. Rangkaian ini menghadirkan diaspora dan diplomat Indonesia di berbagai penjuru dunia—dari Tiongkok, Hungaria, hingga Ethiopia dan Belanda—sebagai narasumber, sebelum bermuara pada penandatanganan IYLA Declaration 2026 di Bandung. IYLA dan NLF akhirnya bertemu di titik yang sama: keduanya ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan muda dan kepemimpinan lintas sektor bukan dua hal terpisah, melainkan satu kontinum yang saling menopang.
Di luar narasi kepemimpinan, ada juga pesan yang jujur dan pragmatis: acara ini adalah panggung bagi pemerintah, BUMN, dunia usaha, akademisi, dan komunitas untuk hadir di tengah generasi yang kelak menjadi pengambil keputusan. Skema kemitraan yang ditawarkan—dari tingkat Platinum hingga Perunggu—dirancang bukan sekadar pemasangan logo, tapi sebagai bentuk keterlibatan jangka panjang dalam ekosistem yang terus tumbuh, sejalan dengan semangat kemitraan strategis Indonesia–Jepang yang menjadi ciri khas KAPPIJA 21 sejak awal berdiri.
“Indonesia Doesn't Need More Events. Indonesia Needs More Collaborative Leaders.”
Kalau ada satu kalimat yang bisa merangkum keseluruhan semangat IYLA dan NLF 2026, barangkali itulah jawabannya—kritik halus yang justru disampaikan dengan lantang di salah satu materi acara ini. Ini bukan sekadar jargon pemasaran. Ini adalah penegasan bahwa forum ini sengaja dirancang untuk tidak menjadi seremoni kesekian yang selesai begitu tepuk tangan penutup berbunyi.
Pertanyaannya kini kembali ke kita semua: sudahkah kita cukup kolaboratif untuk menyongsong Indonesia Emas 2045—atau kita masih menunggu forum berikutnya untuk mulai bergerak?
Untuk informasi lebih lanjut seputar pendaftaran, agenda, dan kemitraan National Leader Forum & IYLA 2026, kunjungi laman resmi kami.
Kunjungi kappija21.org/nlf