
Keluarga besar KAPPIJA21 tengah berselimut duka yang mendalam. Kita kehilangan salah satu putra terbaik, seorang pionir, dan sosok ayah bagi organisasi: Bang Lutfi Idris. Kepergian beliau tidak hanya meninggalkan kekosongan dalam struktur organisasi, tetapi juga kerinduan akan hangatnya persaudaraan yang selama ini beliau rajut.
Teladan Kepemimpinan yang Humanis

Bang Lutfi dikenal sebagai pribadi yang luar biasa fleksibel. Beliau adalah pemimpin yang mampu bersikap tegas saat menakhodai organisasi, namun seketika bisa menjadi sahabat yang asyik untuk berbagi keluh kesah. Kemampuannya menjadi pendengar yang baik bagi para junior menjadikannya tempat curhat yang nyaman, meruntuhkan sekat senioritas dengan kebijakan dan humor.
Meletakkan Batu Pertama Sejarah
Sebagai salah satu pendiri KAPPIJA21 pada 18 Maret 1985, Bang Lutfi adalah arsitek awal yang mewujudkan visi besar Perdana Menteri Jepang, Yasuhiro Nakasone. Beliau membawa semangat dari program “The Japan-ASEAN Youth Friendship Program for 21 Century” ke dalam kerja nyata di tanah air.
Dedikasi beliau bahkan melampaui batas negara, tercermin saat beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Presiden pertama AJAFA21 (ASEAN Japan Alumni Forum). Beliau membuktikan bahwa pemuda Indonesia mampu menjadi motor penggerak persahabatan di level regional.
Warisan Pengabdian Tanpa Batas
Selama lebih dari 40 tahun, Bang Lutfi tidak pernah membiarkan dedikasinya memudar. Dari masa awal pembentukan hingga organisasi ini tumbuh besar dengan lebih dari 4.162 alumni yang tersebar di berbagai posisi strategis—mulai dari pemerintahan hingga sektor swasta—beliau tetap setia mendampingi. Atas pengabdian seumur hidup inilah, penghargaan Lifetime Achievement KAPPIJA21 disematkan kepada beliau sebagai bentuk hormat tertinggi.
Pesan Terakhir: Sinergi untuk Indonesia
Hingga akhir hayatnya, Bang Lutfi terus membawa misi persatuan. Beliau selalu berharap agar seluruh anggota KAPPIJA 21 tetap kompak dan terus bersinergi demi kemajuan Indonesia. Bagi beliau, organisasi ini adalah keluarga besar yang harus saling menguatkan melampaui perbedaan angkatan dan profesi.
“Selamat jalan, Bang Lutfi Idris. Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang pengabdian dan persahabatan yang tulus. Warisanmu akan selalu hidup dalam setiap jalinan persahabatan Indonesia-Jepang yang kami teruskan.
(Humas Kappija21)








