Alumni Nakasone

Etika Bisnis dengan Jepang

Etika Bisnis dan Berkenalan dengan Orang Jepang

Panduan Dasar bagi Profesional Indonesia

Menjalin hubungan profesional dengan mitra Jepang menuntut lebih dari sekadar kemampuan berbahasa. Pemahaman terhadap etika bisnis dan tata krama (manner) merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan (trust) dan hubungan jangka panjang.

Dalam budaya Jepang, sikap, gestur, dan detail kecil sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata. Berikut panduan dasar yang penting dipahami oleh profesional Indonesia.


1. Meishi Koukan: Etika Bertukar Kartu Nama

Di Jepang, kartu nama (meishi) bukan sekadar alat identitas, melainkan representasi diri dan posisi profesional seseorang.

Cara yang benar:

  • Berikan dan terima kartu nama dengan dua tangan.

  • Pastikan posisi kartu menghadap ke penerima, sehingga mudah dibaca.

  • Sertai dengan sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan.

Hal yang perlu diperhatikan:

  • Setelah menerima, luangkan waktu sejenak untuk membaca nama dan jabatan.

  • Letakkan kartu di atas meja di hadapan Anda selama pertemuan.

  • Hindari langsung menyimpan kartu ke dompet atau saku celana, apalagi melipatnya.


2. Kedisiplinan Waktu: Makna Tepat Waktu di Jepang

Dalam budaya bisnis Jepang, tepat waktu berarti datang lebih awal, bukan datang pas di jam yang dijanjikan.

Standar umum:

  • Hadir di lokasi pertemuan 5–10 menit lebih awal.

  • Keterlambatan, meskipun singkat, dapat dianggap sebagai kurangnya penghormatan.

Jika terjadi kendala:

  • Segera beri kabar minimal 30 menit sebelumnya.

  • Komunikasi cepat dan jujur menunjukkan tanggung jawab serta respek terhadap waktu mitra Anda.


3. Posisi Duduk dalam Pertemuan: Kamiza dan Shimoza

Pengaturan tempat duduk dalam ruang rapat mencerminkan hierarki dan peran.

  • Kamiza: Kursi paling jauh dari pintu, diperuntukkan bagi tamu kehormatan atau pihak dengan jabatan tertinggi.

  • Shimoza: Kursi paling dekat dengan pintu, biasanya untuk tuan rumah atau staf yang bertugas melayani jalannya pertemuan.

Memahami aturan ini membantu Anda bersikap tepat tanpa harus diarahkan secara verbal.


4. Komunikasi Non-Verbal: Ojigi sebagai Bentuk Hormat

Membungkuk (ojigi) adalah bentuk penghormatan yang sangat penting dalam interaksi bisnis Jepang.

  • Dalam konteks profesional, membungkuk sekitar 30 derajat sudah dianggap sopan.

  • Hindari kontak mata yang terlalu intens.

  • Jabat tangan dilakukan secara ringan dan biasanya hanya jika mitra Jepang memulainya terlebih dahulu.


Mengapa Etika Ini Penting?

Memahami dan menerapkan etika bisnis Jepang menunjukkan bahwa Anda adalah mitra yang serius, berintegritas, dan menghargai budaya setempat. Hal ini menjadi modal penting dalam membangun kerja sama yang berkelanjutan.

Bagi anggota KAPPIJA21, menjaga standar etika ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari merawat jembatan persahabatan Indonesia–Jepang yang telah terbangun selama puluhan tahun.

https://kappija21.org

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Alumni Nakasone