KAPPIJA21 — Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21

logokappijabaru

Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21

Menghidupkan Diplomasi dari Akar Rumput: Catatan Inspiratif IYLA 2026

Bagi banyak orang, kata “diplomasi” seringkali menyisakan kesan kaku, formal, dan berjarak di ruang-ruang konferensi internasional. Namun, stigma tersebut runtuh seketika dalam sesi Global Leadership & Diplomacy Academy yang dihelat oleh Kappija21 melalui rangkaian International Youth Leadership Academy (IYLA) 2026 – Batch 2. Di ruang virtual ini, ratusan anak muda dari berbagai penjuru tanah air hingga mancanegara mendapati bahwa diplomasi ternyata jauh lebih hidup, membumi, dan melekat dengan keseharian kita.

Mengusung tema “Diplomacy in Practice: The Indonesian Diaspora and Collaborative Global Leadership”, forum daring ini dikemas secara hangat dan interaktif. Acara ini bukan sekadar wadah untuk mendengarkan paparan teori, melainkan ruang cair bagi generasi muda untuk bertukar cerita, mengajukan pertanyaan kritis, serta menggali inspirasi langsung tentang bagaimana anak muda dapat mengambil peran nyata dalam gerakan global lintas batas.

Sejak sesi dibuka, antusiasme peserta langsung terasa begitu hidup, mematahkan kesan bahwa diskusi kenegaraan selalu berjalan monoton.

Flyer 3 Narasumber
Obrolan yang santai, tetapi sarat gagasan. Tiga figur dengan pengalaman di bidang diplomasi dan jejaring global berbagi perspektif tentang bagaimana generasi muda dapat mengambil bagian dalam membangun kolaborasi lintas negara.

Suasana cair tersebut tak lepas dari tradisi kekeluargaan yang dijunjung tinggi oleh Kappija21. Di lingkungan organisasi ini, panggilan kekerabatan seperti “Bang” untuk figur laki-laki dan “Kak” untuk figur perempuan secara konsisten dibudayakan. Budaya sapaan khas Nusantara ini berhasil meruntuhkan sekat birokrasi dan formalitas akademik, membuat ruang diskusi terasa egaliter dan dekat di hati setiap peserta.

Jalannya diskusi dipandu dengan sangat apik oleh Bang Yudil Chatim. Beliau hadir membawa pengalaman luas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Beijing, Tiongkok, periode 2022–2026, sekaligus dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Ketua Global Sinergi Lintas Generasi.

Tingginya animo generasi muda—terutama dari wilayah Indonesia Timur—bahkan sempat membuat kapasitas ruang virtual Zoom membludak. Mengantisipasi hal tersebut, panitia bergerak sigap membuka akses live streaming YouTube agar seluruh peserta dapat tetap menyimak jalannya acara tanpa kendala.

Ketika Diplomasi Turun ke Akar Rumput

Sesi utama menghadirkan dua perspektif perempuan inspiratif yang saling melengkapi dalam memotret praktik diplomasi modern.

Dra. Wening Esthyprobo Fatandari, M.A., yang juga mendedikasikan pengabdiannya sebagai Dewan Pengawas Kappija21 serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Hungaria periode 2014–2019, membagikan intisari pengalaman panjangnya di dunia diplomasi kenegaraan. Di sisi lain, Nathalia Widjaja, Presiden Indonesian Diaspora Network (IDN Global), menghadirkan sudut pandang segar mengenai kekuatan kolektif masyarakat dan diaspora Indonesia yang berkarya di berbagai penjuru dunia.

Dubes Wening saat beri paparan
Berbagi pengalaman langsung dari garis depan diplomasi. Kak Wening menunjukkan bahwa kehadiran negara di luar negeri bukan sekadar tentang hubungan antarpemerintah, tetapi juga tentang hadir bagi warga negara.

Mengawali paparannya dengan sapaan akrab khas Kappija21, Kak Wening mengajak audiens melihat diplomasi dari sisi yang sangat manusiawi dan dekat dengan realitas harian.

Hubungan antarnegara memang dibangun di atas meja perundingan resmi. Namun, di balik dokumen perjanjian tersebut, ada denyut kehidupan warga negara yang merantau jauh dari tanah air dan sewaktu-waktu membutuhkan kehadiran negara.

Ada pekerja migran yang menghadapi dinamika hukum, ada pula pelajar yang memerlukan pendampingan moral maupun administratif. Berbagai situasi di lapangan menuntut perwakilan Indonesia di luar negeri untuk selalu siap hadir, mendengar, dan merumuskan solusi.

Dari kisah-kisah nyata yang dibagikannya, diplomasi bertransformasi menjadi kerja kemanusiaan yang utuh: merangkul, melindungi, dan memastikan tidak ada anak bangsa yang merasa sendirian di negeri orang.

“Hubungan antarbangsa yang kokoh dibangun dari kepedulian di tingkat akar rumput dan kesigapan dalam mendengarkan kebutuhan sesama anak bangsa di mana pun mereka berada,” ujar Kak Wening.

Dari panggung negara, percakapan kemudian mengalir pada kekuatan masyarakat sipil dan jejaring diaspora.

Melalui sapaan hangat “Kak”, Kak Nathalia Widjaja membuka mata peserta bahwa setiap warga Indonesia di luar negeri memegang mandat moral untuk memperkenalkan wajah bangsa serta memberikan kontribusi nyata bagi komunitas global.

Memimpin IDN Global yang kini menaungi sekitar 60 chapter di lima benua, Kak Nathalia menggambarkan betapa majemuknya latar belakang para diaspora—mulai dari pelajar, profesional, pengusaha, koki, seniman, hingga para pegiat sosial.

Tanpa harus mengemban jabatan diplomatik resmi, mereka secara konsisten menjadi duta kultural melalui dedikasi kerja, integritas pergaulan, dan kepedulian sosial di tempat mereka tinggal.

Materi IDN Global
Terhubung melalui puluhan chapter di lima benua, diaspora Indonesia membangun jejaring yang mempertemukan berbagai latar belakang, keahlian, dan pengalaman.

Dalam pemaparannya, beliau juga mengenalkan pendekatan pentahelix ABGCM (Academic, Business, Government, Community, Media). Kolaborasi lintas sektor ini terbukti efektif melahirkan berbagai gerakan positif, seperti Diaspora Care hingga aksi pelestarian lingkungan One Ticket One Mangrove.

“Siapa pun, berapa pun usianya, sekecil apa pun perannya, bisa mengambil peran dan memberikan dampak bagi komunitasnya melalui jejaring kolaborasi global,” tegas Kak Nathalia.
Pilar Soft Diplomacy Diaspora
Diplomasi bukan cuma soal meja perundingan formal. Budaya, pengetahuan, ekonomi, jejaring sosial, dan kepedulian terhadap sesama juga dapat menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia.

Dari Pertanyaan Peserta, Muncul Percakapan yang Lebih Luas

Dinamika acara mencapai puncaknya pada sesi tanya jawab, di mana antusiasme peserta berpadu dengan kedalaman jawaban narasumber.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berpijak langsung pada realitas sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Diplomasi Tidak Selalu Berlangsung di Ruang Perundingan

Disiarkan secara langsung dari studio Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, webinar ini sukses menyampaikan pesan esensial: diplomasi adalah ruang yang sangat dekat dengan denyut kehidupan kita sehari-hari.

Diplomasi memang hidup di ruang sidang kenegaraan. Namun, ia juga berdenyut ketika seorang warga negara dibantu di negeri seberang, ketika diaspora merawat kebudayaan di tanah rantau, atau ketika anak muda merajut persahabatan melintasi batas negara.

Foto Bersama Peserta Webinar
Peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara menutup sesi dengan semangat kebersamaan dan jejaring kolaborasi.

Menjelang penutupan, rangkaian acara diisi dengan sesi dokumentasi bersama, distribusi e-sertifikat, pembagian materi seminar, serta perluasan relasi melalui networking. Rangkaian program IYLA 2026 Batch 2 ini sendiri masih akan terus berlanjut hingga bulan November mendatang, di mana nantinya rangkaian kuis interaktif berhadiah total Rp2.000.000 dalam bentuk e-wallet serta pengundian door prize tiket partisipasi eksklusif pada National Leadership Forum (NLF) di Bandung akan diumumkan menjelang akhir seluruh rangkaian kegiatan.

Screening virtual boleh saja berakhir, namun nilai yang tertinggal jauh melampaui lembar sertifikat formal. Terpatri sebuah kesadaran jernih bahwa setiap orang memiliki ruang untuk terhubung dengan dunia.

Tanpa harus menunggu menyandang gelar diplomat, memegang jabatan struktural, atau merancang proyek raksasa, setiap anak muda dapat mulai berdampak. Segalanya selalu bermula dari sebuah percakapan hangat—dari rasa ingin tahu yang tulus, kesediaan untuk mendengar, serta keberanian memperkenalkan jati diri dan kekayaan budaya bangsa kepada sesama.

Sebab, esensi diplomasi sejati melampaui batas komunikasi antar-pemerintah. Ia adalah perjumpaan antarmanusia; tentang bagaimana kita membangun kepercayaan, menemukan titik temu, dan melangkah bersama di atas keragaman.

Dari titik-titik temu inilah jejaring global terajut, membawa kolaborasi bergerak jauh melompati sekat-sekat teritorial. Di sanilah letak makna sejati diplomasi dari akar rumput: ketika masa depan dunia tidak hanya dirajut oleh mereka yang duduk di meja perundingan formal, melainkan oleh orang-orang biasa yang memilih untuk membuka ruang dialog, merawat kepercayaan, dan berjalan beriringan.

Connecting Communities: Collaborative and Grassroots Diplomacy. The Global Leadership & Diplomacy Academy session at the International Youth Leadership Academy (IYLA) 2026 Batch 2, hosted by Kappija21, brought a remarkably refreshing dynamic.

Centered around the theme “Diplomacy in Practice: The Indonesian Diaspora and Collaborative Global Leadership,” alongside the headline “Global Leadership & Diplomacy Academy: Shaping Future Leaders through Youth Global Synergy and Collaboration,” the forum struck a chord of warmth and openness. It was far more than a passive lecture; it served as a vibrant roundtable for storytelling, inquiring, and exchanging insights on diplomacy, diaspora engagement, global leadership, and cross-border networking.

Hundreds of ambitious youths hailing from across Indonesia and international horizons tuned in. From the opening minutes, the atmosphere shed all bureaucratic stiffness, unfolding with an inviting, conversational ease.

Flyer 3 Speakers
An engaging conversation packed with meaning. Featuring inspiring figures in diplomacy and global networks to explore how young people can take part in world movements. Exciting, insightful, and full of energy!

Kappija21’s familial ethos naturally melted away the formality typical of academic settings. In accordance with internal customs, speakers and members address one another using affectionate kinship titles—”Bang” for male figures and “Kak” for female figures—bridging hierarchy with an egalitarian, distinctly Indonesian warmth.

Guiding the dialogue with effortless charm was Bang Yudil Chatim, drawing upon his distinguished tenure as the Education and Culture Attaché of the Republic of Indonesia in Beijing, China (2022–2026), alongside his role as Acting Chair of Global Synergy Across Generations.

Participant enthusiasm surged right from the get-go. Turnout was so overwhelming—particularly from Eastern Indonesia—that the Zoom session reached maximum capacity instantly, prompting organizers to launch a seamless YouTube live stream so no eager minds missed out.

When Diplomacy Takes Root in the Community

The core session unpacked two distinct yet wonderfully complementary lenses on modern statecraft.

Dra. Wening Esthyprobo Fatandari, M.A., who also dedicates her leadership as the Supervisory Board Member of Kappija21 and former Indonesian Ambassador to Hungary (2014–2019), brought profound wisdom forged from years on the diplomatic frontlines. In tandem, Nathalia Widjaja, President of the Indonesian Diaspora Network (IDN Global), offered a sweeping view of global citizens making an impact worldwide.

Ambassador Wening presenting
Sharing experiences directly from the front lines of diplomacy. Kak Wening showed that the state’s presence abroad is not just about intergovernmental relations, but about being there for citizens.

Greeting the virtual room with the warmth characteristic of Kappija21, Kak Wening invited participants to reimagine diplomacy far beyond elite negotiation rooms.

While interstate diplomacy relies on formal treaties, its true heartbeat resonates wherever citizens build lives far from home and look to their homeland for support.

Whether navigating migrant worker advocacy or providing pastoral care for students abroad, a nation’s overseas missions exist fundamentally to listen, shelter, and advocate.

Through her anecdotes, diplomacy emerged not merely as geopolitical strategy, but as a deeply human vocation: reaching out, safeguarding, and championing fellow citizens across oceans.

Kak Wening
“Strong international relations are built on grassroots care and the agility to listen to the needs of fellow citizens wherever they may be,” said Kak Wening.

Shifting focus from state apparatus to civil society, the discourse turned toward global diaspora communities.

Affectionately addressed as Kak Nathalia, the IDN Global President highlighted how everyday Indonesians abroad act as vital conduits, championing the nation’s image and fostering grassroots goodwill in their host societies.

Under her stewardship uniting roughly 60 chapters across five continents, IDN Global encompasses a vibrant mosaic: students, professionals, entrepreneurs, culinary artists, and creators alike.

Though lacking formal diplomatic credentials, through daily interactions, cultural exchange, and altruistic endeavors, they effectively serve as cultural ambassadors.

IDN Global Material
Spanning across five continents with dozens of active chapters. This is where Indonesian diaspora from various backgrounds connect to forge collaborations.

Highlighting collaborative frameworks such as the ABGCM pentahelix model (Academic, Business, Government, Community, Media), she showcased impactful community-driven programs like Diaspora Care and the One Ticket One Mangrove environmental initiative.

Kak Nathalia
“Anyone, regardless of age, and no matter how small their role, can take part and make an impact on their community through global collaboration networks,” stressed Kak Nathalia.
Diaspora Soft Diplomacy Pillars
Diplomacy is not just about formal negotiation tables. Culture, knowledge, work, social care, and human connections also serve as bridges between Indonesia and the world.

Igniting Dialogue Through Participant Inquiry

The interactive Q&A session propelled the energy to new heights, driven by questions rooted in genuine lived experiences.

Participant inquiries touched upon pressing real-world concerns rather than abstract theory.

Diplomacy Transcends Negotiation Rooms

Broadcast live from the Kwik Kian Gie Institute of Business and Informatics, the event left attendees with an empowering realization: diplomacy is woven into the fabric of daily life.

It certainly thrives in ambassadorial halls, but it equally materializes when an overseas Indonesian finds a helping hand, when diaspora members celebrate their heritage, when youth forge international friendships, or when local groups rally for a shared cause.

Group Photo
Participants from across Indonesia and abroad wrapped up the session with a spirit of togetherness and collaborative networking.

The webinar concluded with group snapshots, e-certificate distributions, seminar toolkits, and dynamic networking sessions. Meanwhile, the IYLA 2026 Batch 2 program continues through November, leading toward upcoming interactive quizzes featuring a Rp2,000,000 e-wallet pool and exclusive door prizes for the National Leadership Forum (NLF) in Bandung.

Far beyond formal certificates, what truly remained was a profound realization: everyone holds the agency to bridge worlds without waiting for formal titles.

It all starts with a simple conversation—curiosity, a willingness to listen, and the courage to connect. True diplomacy transcends governments; it is human connection building trust and walking together, capturing the true essence of grassroots diplomacy.

日常のつながりから生まれる、草の根の協働外交。Kappija21が主催した「インターナショナル・ユース・リーダーシップ・アカデミー(IYLA)2026 バッチ2」のグローバル・リーダーシップ&ディプロマシー・アカデミーセッションは、終始温かく開放的な空気に包まれていました。

「外交の実践:インドネシアのディアスポラと協調的グローバル・リーダーシップ」というテーマと、「次世代のリーダーを育む若者たちのグローバルな相乗効果と協働」を掲げたこのフォーラムは、型にはまった講義の枠を大きく超え、参加者同士が対話し、問いを投げかけ、外交やディアスポラ、グローバルリーダーシップのあり方について率直に語り合う特別な場となりました。

インドネシア各地、そして海外からも多くの若者たちが参加し、最初から硬直した雰囲気が一切ない、リラックスした活気ある空間が広がっていました。

3名の登壇者フライヤー
意味深い内容に満ちた楽しい対話。外交やグローバルネットワークのインスピレーションあふれる人物を迎え、若者が世界のムーブメントにどのように参加できるかを掘り下げました。エキサイティングで、洞察に満ち、エネルギーにあふれています!

Kappija21が大切にしてきたアットホームな伝統は、アカデミックな場にありがちな壁を自然と取り払ってくれました。組織内では、男性を「バング」、女性を「カック」という親愛を込めた呼称で呼び合う文化があり、格式張った上下関係ではなく、ヌサンタラならではの温かな連帯感の中で対話が深められます。

本セッションの司会進行を務めたのは、2022〜2026年在中国北京インドネシア共和国大使館教育文化アタッチェ兼世代間グローバル・シナジー代理議長を務めるバング・ユディル(バング・ユディル・チャティム)です。

参加者の熱気は開始直後から最高潮に達し、特に東インドネシアからの参加者が殺到してZoomの定員が瞬く間に埋まったため、主催者は急きょYouTubeライブ配信を解放し、一人も取り残すことなく全員が参加できるよう迅速に対応しました。

社会の足元から動き出す外交

メインセッションでは、お互いを補完し合う2つの深い視点が提示されました。

Kappija21の評議員(Dewan Pengawas)を務め、2014〜2019年在ハンガリー・インドネシア共和国特命全権大使を歴任したドゥラ・ウェニング・エスティプロボ・ファタンダリ M.A.氏は、外交の最前線で培った豊富な実体験に基づき語りかけました。一方、インドネシア・ディアスポラ・ネットワーク(IDNグローバル)会長のナタリア・ウィジャヤ氏は、世界各地で活躍する市民やディアスポラの視点を持ち込みました。

発表を行うウェニング大使
外交の最前線から直接経験を共有するカック・ウェニング。国家の職務や海外での市民保護には、草の根に至るまでの誠実さと現実的な存在感が必要であるということを私たちに気づかせてくれる講演となりました。

Kappija21の温かい雰囲気に包まれながら、「カック・ウェニング」として語り始めた彼女は、私たちが日常の暮らしの中で感じる感覚の延長線上にある外交の姿を解き明かしてくれました。

国家間の公式な交渉はもちろん不可欠ですが、その営みの背後には、故郷を遠く離れて生活し、母国の温もりや支えを必要としている一人ひとりの市民がいます。

異国の地で困難を抱える出稼ぎ労働者や、日々の学業に奮闘する留学生たち——現地に駐在するインドネシア代表部が常に寄り添い、耳を傾け、手を差し伸べなければならない場面は数多く存在します。

彼女の言葉を通じて、外交とは冷徹な政治的駆け引きではなく、海を越えた同胞を包み込み、守り抜くという、きわめて人間味あふれる営みであることが強く胸に響きました。

カック・ウェニング
「強固な国際関係は、草の根レベルでの思いやりと、どこにいても同じ同胞のニーズに耳を傾ける機敏さの上に築かれます」とカック・ウェニングは語りました。

国家の役割から、視座はさらに広がり、民間の力とディアスポラの存在へと引き継がれました。

親しみを込めて「カック」と呼ばれるIDNグローバル会長のカック・ナタリアは、海外に暮らすインドネシア人一人ひとりが、自国の文化を伝え、現地社会との絆を育み、コミュニティに貢献する確かな力を持っていると訴えました。

現在5大洲に約60の支部を束ねる彼女のもとには、学生、プロフェッショナル、起業家、料理人、アーティストなど、多彩な顔ぶれが集まっています。

彼らは必ずしも外交官の肩書をまとっていませんが、日々の仕事や交流、文化的な発信、そして温かな社会的活動を通じて、世界中にインドネシアの真の姿を伝えています。

IDNグローバルの資料
5つの大陸をまたぎ、多数の活発な支部が広がっています。学生から専門家まで、さまざまな背景を持つインドネシアのディアスポラがここで繋がり、コラボレーションを築いています。

その中で紹介されたのが、アカデミック、ビジネス、政府、コミュニティ、メディアを繋ぐABGCMペンタヘリックスの枠組みです。このネットワークを駆使して、「ディアスポラ・ケア」や環境保全を目指す「ワン・チケット・ワン・マングローブ」といった意義深い活動が展開されています。

カック・ナタリア
「年齢に関わらず、またどれほど小さな役割であっても、誰もがグローバルな協働ネットワークを通じてコミュニティに参加し、インパクトをもたらすことができます」とカック・ナタリアは強調しました。
ディアスポラのソフトパワーの柱
外交は形式的な交渉の場だけのものではありません。文化、知識、仕事、社会貢献、そして人間関係そのものが、インドネシアと世界を結ぶ架け橋となります。

活発な問いかけから生まれた深い対話

質疑応答の時間が始まると、会場の熱気はさらに一段と高まりました。

寄せられた質問は理論的なものにとどまらず、若者たちが日々の実感として抱く率直な疑問ばかりでした。

外交は交渉の部屋だけに留まらない

クビック・キアン・ギエ経営情報大学のスタジオから中継されたこのイベントは、参加したすべての若者たちに、外交とは決して遠い世界のものではなく、私たちの暮らしのすぐ隣にあるという温かな真実を伝えてくれました。

もちろん、公式な会議室や官庁街で行われる外交もあります。しかしそれと同時に、海外で困難に直面した同胞が救いを得るとき、ディアスポラが自国の素晴らしい文化を現地の人々に紹介するとき、若者たちが国境を越えて心を通わせるとき、そして人々が手を取り合って新しいプロジェクトを立ち上げるとき、そこにも確かに外交の姿があるのです。

集合写真
国内外の隅々から集まった参加者たちは、連帯感と協働の精神を胸にセッションを締めくくりました。

プログラムの最後には記念撮影が行われ、電子修了証やセミナー資料の配布、ネットワーキングの時間が設けられました。なお、IYLA 2026 Batch 2の全体プログラムは11月まで継続して開催される予定であり、総額200万ルピア相当の電子ウォレットが当たるクイズや、バンドンで開催される「ナショナル・リーダーシップ・フォーラム(NLF)」への参加権が贈られるドアプライズなどの各種企画の発表は、今後のプロセスを経て順次行われていきます。

画面が暗転したあとも心に残り続けたのは、修了証でも賞品でもなく、「誰もが世界とつながる扉を開いている」という確信でした。

特別な肩書や資格は必要ありません。すべては目の前の人との小さな対話から始まります。真の外交とは国家間の交渉にとどまらず、人と人が信頼を築き共に歩むプロセスであり、それこそが草の根からの外交の本質なのです。

× Full Flyer
× Full Dubes Wening
× Full Bersama
× Full Material P3
× Full Material P6
× Full Wening
× Full Natalia
Scroll to Top