KAPPIJA21 — Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21

S.KM., M.Ed. | PhD Cand.
Diplomat, Pendidik, dan Pembangun Jembatan Antarbangsa

"RBI bukan sekadar ruang fisik. Ia adalah filosofi: budaya sebagai fondasi, warisan sebagai identitas, seni sebagai bahasa universal, dan diplomasi yang berinovasi bersama semua pihak. Inilah cara Indonesia memperkenalkan dirinya kepada dunia." — Yudil Chatim · IYLA 2026, Episode 2
Ada perjalanan hidup yang dibangun oleh satu profesi. Ada pula yang justru memperoleh maknanya dari keberanian untuk melintasi berbagai dunia. Bang Yudil adalah bagian dari perjalanan yang kedua.
Berawal dari pendidikan kesehatan masyarakat, beliau memasuki dunia birokrasi pendidikan, menempuh pendidikan tinggi di Tiongkok, membangun jejaring akademik internasional, dan akhirnya menjalankan diplomasi sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing. Setelah menyelesaikan penugasan itu, pengalaman panjang tersebut menemukan ruang baru dalam kerja-kerja kepemudaan dan kepemimpinan melalui KAPPIJA21.
Benang merah dari seluruh perjalanan itu adalah satu hal: membangun jembatan. Antara pendidikan dan dunia kerja. Antara Indonesia dan Tiongkok. Antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Dan, yang tidak kalah penting, antara generasi hari ini dengan generasi yang akan datang.
Bang Yudil — begitu kami di keluarga besar KAPPIJA21 menyapa beliau — menempuh pendidikan D-III Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan di Akademi Kesehatan Lingkungan Jakarta, sebelum melanjutkan ke Universitas Indonesia dan meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM.) pada 1997–2000. Latar belakang tersebut kelak memberi warna tersendiri pada cara pandangnya: pendidikan, baginya, bukan sekadar persoalan institusi atau kurikulum, melainkan bagian dari pembangunan manusia.
Pada 2001, beliau memasuki dunia birokrasi pendidikan nasional. Selama kurang lebih satu dekade, hingga 2011, bertugas di Kementerian Pendidikan Nasional — termasuk sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal di dua unit kerja, PMPTK dan PLSP. Di sinilah beliau memperoleh pengalaman langsung tentang bagaimana kebijakan dirumuskan, diterjemahkan menjadi program, dan berhadapan dengan kompleksitas implementasi di lapangan. Pengalaman itu kelak menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan profesionalnya.
Di tengah pengabdiannya di kementerian, Bang Yudil memperoleh Chinese Government Scholarship (CSC) dari pemerintah Tiongkok — dan beliau tercatat sebagai penerima pertama beasiswa CSC dari Kemendikbud. Kesempatan itu membawanya ke Wuhan untuk menempuh pendidikan di Central China Normal University dengan konsentrasi Administration & Economic Education.
Tiongkok bukan sekadar tempat memperoleh gelar. Beliau mempelajari bahasa Mandarin, memahami masyarakat dan kebudayaan Tiongkok dari dekat, serta membangun jejaring yang kelak menjadi modal penting dalam perjalanan diplomasi dan kerja sama internasionalnya. Studi magister diselesaikan dengan predikat Excellent Graduate Student. Perjalanan doktoral pun dimulai di universitas yang sama, meskipun penyelesaiannya harus dilanjutkan di kemudian hari. Dari pengalaman hidup di Tiongkok selama bertahun-tahun, beliau belajar bahwa memahami sebuah negara tidak cukup melalui kebijakannya — sebuah negara juga harus dipahami melalui masyarakatnya, budayanya, cara berpikirnya, dan hubungan antarmanusianya.
Kembali ke Indonesia, Bang Yudil membawa perspektif yang berbeda. Pada 2011–2014, beliau bergabung dengan Kantor Wakil Menteri Pendidikan sebagai koordinator — kali ini dengan lensa yang lebih luas setelah pengalaman akademik dan sosial di Tiongkok. Dari sana perjalanannya berlanjut ke dunia perguruan tinggi: selama delapan tahun, dari 2014 hingga 2022, beliau dipercaya sebagai Koordinator Kerja Sama Internasional di Universitas Batam, Universitas Malahayati, dan Universitas Pakuan — fokusnya adalah mempertemukan perguruan tinggi Indonesia dengan mitra internasional, membangun jejaring, dan membuka ruang kolaborasi lintas negara.

Pada 2021, beliau juga dipercaya sebagai Analis Kebijakan Muda di Direktorat Mitras DUDI, Ditjen Pendidikan Vokasi — mempertemukannya dengan persoalan yang semakin penting: bagaimana institusi pendidikan dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan dunia industri, sehingga pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut menjadi kompetensi, kesempatan, dan masa depan.
Tahun 2022 menjadi titik paling penting dalam perjalanan Bang Yudil. Beliau dipercaya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, menjalankan tugas diplomatik di salah satu hubungan bilateral paling strategis bagi Indonesia. Selama tiga tahun, beliau terlibat dalam ratusan kegiatan pendidikan dan kebudayaan, membangun jejaring di 29 provinsi Tiongkok dan Mongolia, serta berinteraksi dengan berbagai perguruan tinggi, lembaga pemerintah, dunia industri, komunitas diaspora, dan mahasiswa Indonesia. Lebih dari 350 kegiatan diplomasi tercatat dalam periode tersebut, dan lebih dari 100 MoU dan PKS dibangun bersama berbagai mitra — termasuk mendampingi Presiden Republik Indonesia dalam kunjungan kenegaraan ke Chengdu pada 2023.
Namun angka-angka itu hanyalah permukaan dari sebuah perjalanan yang jauh lebih besar. Bagi Bang Yudil, diplomasi tidak berhenti pada seremoni atau penandatanganan dokumen. Diplomasi harus meninggalkan sesuatu yang dapat tumbuh setelah para pejabat dan delegasi kembali ke negaranya masing-masing. Hubungan Indonesia dan Tiongkok, dalam perspektif beliau, bukan hanya hubungan antarpemerintah — ia juga merupakan hubungan antarmasyarakat, antarkampus, antargenerasi, dan antarmanusia.

Pandangan itu tercermin dalam berbagai forum bilateral, termasuk China–Indonesia People-to-People Exchange Development Forum 2023. Penandatanganan MoU pertama bersama Beijing Zhiyang Beifang International Education Technology pada 21 Desember 2022 menjadi penanda arah kerja yang beliau pilih: konkret, terukur, dan berdampak langsung. Kunjungan, bagi Bang Yudil, bukan sekadar agenda yang selesai ketika rombongan pulang — yang lebih penting adalah apa yang bisa tumbuh setelahnya.




Salah satu gagasan yang mendapatkan bentuk nyata selama masa penugasan adalah Rumah Budaya Indonesia (RBI). RBI di Tianjin Foreign Studies University diresmikan pada Mei 2024 melalui kolaborasi KBRI Beijing dan Universitas Brawijaya. Bagi Bang Yudil, rumah budaya bukan sekadar ruangan yang dipenuhi artefak — beliau melihat kebudayaan sebagai bahasa diplomasi. Budaya memungkinkan orang mengenal Indonesia sebelum mereka mengenal kebijakan Indonesia. Seni membuka percakapan ketika bahasa politik terasa terlalu formal. RBI pun dikembangkan ke Guangxi, dengan rencana pengembangan berikutnya di Baoding dan Fujian.

Perhatian beliau juga tertuju pada pendidikan vokasi. Dari perspektif bahwa masa depan pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuannya berhubungan dengan dunia kerja, lahirlah China–Indonesia TVET Industry-Education Alliance (CITIEA) — platform yang mempertemukan pendidikan vokasi Indonesia dengan sektor industri Tiongkok, termasuk BYD, LiuGong, dan Huawei. Bagi Bang Yudil, kampus membutuhkan dunia usaha, dunia usaha membutuhkan SDM yang kompeten, dan pemerintah menyediakan ekosistemnya — ketiganya harus bertemu dalam sebuah rantai yang saling menguatkan.


Jejaringnya membentang dari wilayah utara hingga selatan Tiongkok — salah satunya melalui kerja sama dengan Fujian Polytechnic Normal University, yang kemudian menjadi bagian dari pengembangan jejaring pendidikan dan budaya Indonesia di kawasan Fujian. Setiap pertemuan membuka kemungkinan baru, dan banyak kerja sama diarahkan untuk menjadi hubungan jangka panjang, bukan hanya kegiatan seremonial.




Di balik diplomasi institusional, terdapat perhatian yang lebih personal: mahasiswa Indonesia yang hidup dan belajar jauh dari tanah air. Selama masa penugasan di Tiongkok, Bang Yudil berinteraksi dengan lebih dari 3.000 mahasiswa Indonesia. Welcoming party, kegiatan kepemimpinan, pembinaan komunitas PERMIT dan PPIT, hingga job fair menjadi bagian dari rangkaian aktivitas yang mempertemukan diplomasi dengan kehidupan sehari-hari. Mahasiswa Indonesia di luar negeri, baginya, bukan sekadar penerima layanan — mereka adalah bagian dari wajah Indonesia di dunia dan, pada waktunya, akan menjadi penghubung baru antara Indonesia dan masyarakat internasional.


Ketika masa penugasan di Beijing berakhir pada 2025, Bang Yudil pulang membawa pengalaman yang tidak sederhana — pengalaman birokrasi, akademik, diplomasi, kerja sama internasional, dan ribuan pertemuan dengan anak muda Indonesia di luar negeri. Semua itu kini menemukan ruang baru di keluarga besar KAPPIJA21. Jika sebelumnya beliau banyak membangun jembatan antara Indonesia dan dunia, kini beliau memiliki kesempatan untuk membantu generasi muda menemukan jalan mereka sendiri untuk melangkah melewatinya.
Mendirikan RBI di Tianjin, Guangxi, dan merencanakan Baoding & Fujian — sebagai pusat diplomasi budaya Indonesia di Tiongkok.
Meluncurkan China–Indonesia TVET Industry-Education Alliance bersama BYD, LiuGong, dan Huawei.
Chinese Language Centre di 6 universitas Indonesia, kerja sama riset dengan universitas 985/211 Tiongkok.

Sebagai Ketua Pelaksana sekaligus narasumber Episode 2, Bang Yudil hadir bukan hanya membawa teori — tetapi cerita dari pengalaman yang benar-benar dijalani. Tentang keberanian keluar dari zona nyaman. Tentang bagaimana perbedaan budaya justru dapat menjadi sumber kekuatan. Tentang peluang pendidikan dan karier global yang nyata. Dan tentang satu hal yang mungkin paling penting: bahwa generasi muda Indonesia tidak seharusnya hanya menjadi penonton dalam percakapan global. Mereka harus memiliki global voice.