KAPPIJA21 — Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21

logokappijabaru

Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21

Membangun Jembatan Peradaban: Forum IYLA 2026 Dorong Pemimpin Muda Indonesia Bersinergi Lintas Negara dan Budaya | KAPPIJA21
International Youth Leadership Academy 2026 · Batch 2

Membangun Jembatan Peradaban: Forum IYLA 2026 Dorong Pemimpin Muda Indonesia Bersinergi Lintas Negara dan Budaya Building Bridges of Civilization: IYLA 2026 Forum Inspires Indonesia's Young Leaders to Collaborate Across Nations and Cultures 文明の架け橋を築く:IYLA 2026フォーラム、インドネシアの若きリーダーたちに国と文化を超えた協働を促す

Global Leadership & Diplomacy Academy · KAPPIJA21

Senin, 7 September 2026 Monday, September 7, 2026 2026年9月7日(月) Forum Daring · KAPPIJA21 Online Forum · KAPPIJA21 オンラインフォーラム · KAPPIJA21 Ep 2 Episode 2 第2回

Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah pusaran perubahan dunia. Semangat itulah yang mempertemukan ratusan pemimpin muda dari berbagai penjuru Indonesia dalam forum daring Global Leadership & Diplomacy AcademyEpisode 2: “Membangun Sinergi Lintas Negara dan Budaya” — yang diselenggarakan oleh International Youth Leadership Academy 2026 Batch 2 bekerja sama dengan KAPPIJA21, Senin, 7 September 2026.

Forum ini menghadirkan empat narasumber dari latar belakang berbeda — diplomat, akademisi, hingga praktisi diplomasi pendidikan — yang berbagi perspektif dan pengalaman tentang bagaimana generasi muda dapat mengambil peran sebagai jembatan peradaban di tengah dunia yang semakin terhubung, tetapi pada saat yang sama juga semakin rentan terhadap konflik dan perpecahan.

Forum yang dimulai pukul 15.30 WIB tersebut dipandu oleh Dr. Rizqy Ghassani, S.Sos., M.Ikom. Sebelum diskusi dimulai, seluruh peserta menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Momen ini menjadi penegasan bahwa meskipun pembahasannya berwawasan global, semangat kebangsaan tetap menjadi pijakan utama.

Sambutan kemudian disampaikan oleh Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M., Presiden KAPPIJA21. Ia mengawali forum dengan pesan tentang pentingnya solidaritas lintas daerah dan kekuatan jejaring antargenerasi sebelum para narasumber menyampaikan gagasan masing-masing.

International Youth Leadership Academy (IYLA) 2026 merupakan program pengembangan kepemimpinan yang digagas oleh KAPPIJA21 (Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21), organisasi alumni yang menghimpun peserta program persahabatan Indonesia–Jepang dan selama ini aktif berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia.

IYLA tidak dirancang sekadar sebagai rangkaian webinar. Program ini dibangun sebagai sebuah ekosistem kepemimpinan yang mempertemukan talenta muda dari berbagai daerah untuk belajar, membangun jejaring, berkolaborasi, melahirkan gagasan, dan mengambil tindakan nyata. Sejalan dengan visi “Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045”, IYLA 2026 terdiri atas 12 episode kelas daring mingguan dari Agustus hingga November 2026, masing-masing mengangkat tema strategis dari diplomasi multilateral hingga peran pemuda dalam berbagai persoalan global.

Forum pada 7 September 2026 merupakan episode kedua dari 12 pertemuan. Masih terdapat 10 episode berikutnya yang akan membawa peserta semakin jauh dalam perjalanan pengembangan wawasan dan kapasitas kepemimpinan. Tema episode ini: Bridge Builders Academy: Membangun Sinergi Lintas Negara & Budaya.

Menyelami Akar Persoalan Literasi dan Pemerataan Akses

Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M. membuka perspektif diskusi dengan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: literasi. Menurutnya, rendahnya minat baca di Indonesia tidak semata-mata disebabkan oleh keengganan anak-anak untuk membaca. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yakni keterbatasan akses, jarak, serta harga buku yang relatif mahal. Harga buku fisik berada pada kisaran Rp80.000 hingga Rp199.000 — jika dibeli rutin, biayanya dapat melampaui satu juta rupiah per tahun, angka yang tentu tidak ringan bagi banyak keluarga.

Persoalan semakin kompleks ketika melihat kondisi perpustakaan sekolah. Sekitar 60 persen perpustakaan sekolah masih menghadapi keterbatasan fasilitas, sementara sebagian koleksinya hanya terdiri atas ratusan buku yang sudah usang. Di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), tantangan tersebut menjadi semakin berat: konsentrasi penerbit masih banyak berada di Pulau Jawa dan Bali, biaya pengiriman ke daerah terpencil relatif tinggi, koneksi internet belum stabil, dan sumber daya manusia pengelola perpustakaan masih terbatas.

Rekomendasi Aksi Nyata
  • Subsidi kertas dan ongkos kirim buku dari pemerintah
  • Konsep satu desa satu perpustakaan, bus pintar, dan perpustakaan apung bersama TNI
  • Revitalisasi balai desa: rak buku, minimal 50 buku baru, dan smartboard
  • Gerakan Orang Tua Literasi — 15 menit tanpa gawai dan televisi bersama anak setiap hari
  • Optimalisasi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan virtual library yang buka di hari libur
Materi Pemaparan · Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M.
Membangun Jembatan: Sinergi Lintas Budaya dan Negara untuk Pemimpin Muda Masa Depan
Staf Ahli Menteri Bidang Polhukam Kemensesneg RI · Presiden KAPPIJA21

Dalam pemaparannya, Dr. Sjahriati membingkai kondisi dunia saat ini sebagai momen kritis yang justru membuka peluang bagi Indonesia — dan generasi mudanya — untuk tampil sebagai jembatan peradaban, bukan sekadar penonton konflik global. Ia mengutip pesan Presiden Prabowo bahwa Indonesia harus hadir sebagai jembatan dialog, kerja sama, dan perdamaian.

78%
Negara butuh mediasi global
45+
Konflik aktif di dunia
$5.2B
Investasi masuk dari diplomasi
10.000+
Pertukaran pelajar aktif
3 Pilar Arah Kebijakan Luar Negeri Indonesia
Pilar 01
Bebas Aktif Produktif
Aktif menawarkan solusi global — konsensus G20 Bali sebagai bukti nyata. Tingkat keberhasilan 85%, bermitra dengan 20+ negara.
Pilar 02
Diplomasi Ekonomi
Setiap duta besar adalah duta investasi. $5.2B investasi masuk, 150+ proyek aktif. Target investasi $100M+ per hubungan bilateral.
Pilar 03
Diplomasi Manusia
Fondasi terkuat: hubungan antarrakyat. Pertukaran pelajar, budaya, dan riset bersama 50+ negara mitra, 25K pelajar internasional.
Budaya Adalah Bahasa Universal

Ia menegaskan bahwa perbedaan bukan penghalang — melainkan bahan bakar inovasi dan kerja sama. Tingkat keberhasilan kerja sama lintas budaya Indonesia tercatat mencapai 78%, dengan 45+ negara mitra budaya aktif. “Budaya adalah jembatan penghubung antarbangsa yang paling efektif,” tegasnya.

Kemanusiaan Tanpa Batas: Solidaritas Lintas Negara

Salah satu ilustrasi paling kuat yang dihadirkan Dr. Sjahriati adalah kisah Tim SAR Indonesia di Turki — respons cepat saat gempa bumi melanda, yang mengerahkan 50+ personel beroperasi 24/7 dan berhasil menyelamatkan lebih dari 100 korban. Tim ini terdiri dari berbagai latar belakang: TNI, Polri, relawan, dan diaspora. Baginya, ini adalah bukti nyata bahwa solidaritas kemanusiaan melampaui batas negara dan ideologi — dan inilah karakter yang harus dimiliki pemimpin muda Indonesia.

50+
Personel Tim SAR Indonesia di Turki
24/7
Operasi penyelamatan tanpa henti
100+
Korban berhasil diselamatkan
Nilai
Solidaritas Lintas Negara
Solusi Global dari Kearifan Lokal

Indonesia memiliki kearifan lokal yang justru menjadi jawaban atas tantangan global. Ia menyebut tiga contoh nyata: Restorasi Mangrove (rehabilitasi 3,5 juta hektar ekosistem pesisir dari kenaikan permukaan laut), Subak Bali (sistem tata air berbasis komunitas yang terintegrasi dengan pariwisata), dan Sasi Maluku (aturan adat yang menjaga ekosistem laut dan keberlanjutan). Ketiganya melibatkan lebih dari 100 komunitas lokal dan menjadi model diplomasi iklim Indonesia di panggung internasional.

3,5 jt
Hektar mangrove direstorasi
50%
Tingkat restorasi ekosistem
100+
Komunitas lokal terlibat
Nilai
Adaptasi & Mitigasi Iklim
3 Kompetensi Lintas Budaya yang Harus Dimiliki Pemuda
Bahasa & Empati Lintas Budaya
Minimal 2 bahasa internasional, memahami norma dan etiket berbagai budaya sebagai fondasi komunikasi global.
Literasi Digital & Keamanan Siber
Tangkis hoaks, jaga privasi, dan perkuat keamanan siber sebagai benteng di era informasi.
Kolaborasi Riset & Wirausaha
Kembangkan solusi lokal untuk pasar global melalui kolaborasi riset dengan institusi internasional.
Peta Jalan 100 Hari Aksi: Menjadi Jembatan
Fase 1 · Minggu 1–2
Pemetaan Jejaring
Identifikasi 10+ mitra lintas kampus & komunitas internasional
Fase 2 · Minggu 3–6
Proyek Mini Kolaboratif
Webinar lintas negara, riset bersama, dan kampanye sosial. Target: 3 proyek aktif
Fase 3 · Minggu 7–14
Publikasi & Replikasi
Dokumentasi, publikasi hasil, dan ajukan pendanaan. Target: 5 publikasi

“Jembatan bukan hanya untuk menghubungkan, tetapi untuk membangun kepercayaan.”

Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M. · Staf Ahli Kemensesneg RI

Peluang Studi di Tiongkok dan Prospek Karier Global bagi Lulusan Bahasa Mandarin

Peluang pendidikan tinggi ke luar negeri kini semakin terbuka luas tanpa terhalang kendala bahasa Inggris. Yudil Chatim, SKM., M.Ed., Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Beijing periode 2022–2026, membawa peserta melihat peluang pendidikan dan karier yang terbuka lebar di Tiongkok. Menurutnya, kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi di sana semakin terbuka, termasuk bagi mereka yang belum menguasai bahasa Mandarin — mahasiswa dapat memperoleh pembelajaran bahasa secara langsung selama menjalani studi, tanpa perlu syarat tes seperti TOEFL.

Lebih dari seratus mahasiswa asal Papua telah menempuh pendidikan di Tiongkok dengan adaptasi yang luar biasa. Kisah Aldo dari Papua Barat Daya yang tampil dalam kompetisi menyanyi menggunakan bahasa Mandarin, serta Grace — yang juga dikenal sebagai Aurel — dari Nabire yang berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran, menjadi bukti bahwa latar belakang daerah bukan penghalang untuk meraih prestasi di tingkat internasional. Seiring meningkatnya investasi industri Tiongkok di Indonesia, lulusan yang menguasai bahasa Mandarin memiliki peluang yang semakin besar di pasar kerja yang membutuhkan kompetensi lintas bahasa dan budaya.

Materi Pemaparan · Yudil Chatim, SKM., M.Ed.
Rumah Budaya Indonesia (RBI): Model Diplomasi Budaya Sinergis di Tiongkok
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing 2022–2026

Di balik kisah sukses itu, ia membangun sesuatu yang lebih besar: sebuah ekosistem diplomasi budaya yang ia wujudkan melalui Rumah Budaya Indonesia (RBI). Berangkat dari fakta bahwa 25 perguruan tinggi di Tiongkok sudah memiliki program studi Bahasa Indonesia — namun belum ada respons resiprokal yang setara dari Indonesia — ia mengambil inisiatif membangun jembatan budaya yang nyata dan terukur melalui pendekatan yang ia sebut ABG-CM — singkatan dari Academic, Business, Government, Community, dan Media.

Peta Perkembangan Rumah Budaya Indonesia
✓ Diresmikan · Mei 2024
RBI Ke-1 — Tianjin Foreign Studies University
Kolaborasi Universitas Brawijaya × TFSU. Menampilkan musik tradisional, pakaian adat, kuliner, serta pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) dan UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia). Diresmikan Atase Pendidikan dan Atase Perdagangan KBRI Beijing.
✓ Diresmikan · Mei 2025
RBI Ke-2 — Guangxi Normal University
Replikasi model Tianjin — bukti bahwa pendekatan ABG-CM dapat dijalankan di kota lain. Memperluas jangkauan diplomasi budaya RI di wilayah selatan Tiongkok.
⏳ Dalam Perencanaan
RBI Ke-3 — Baoding University
Fasilitas 100 m² telah disiapkan pihak universitas. Menunggu dukungan konkret dari mitra Indonesia.
⏳ Dalam Perencanaan
RBI Ke-4 — Fujian Normal University
Fasilitas 500 m² telah disiapkan. Menunggu dukungan dari Universitas Hasanuddin – Makassar sebagai mitra Indonesia.
Model ABG-CM: Lima Pilar Sinergi yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri
PilarPeranContoh Implementasi
AcademicPendidikan & penelitianBIPA, UKBI, double degree, pertukaran dosen-mahasiswa
BusinessDunia usahaPromosi UMKM, produk kreatif, kemitraan industri
GovernmentPemerintahDukungan KBRI, Kemendikbud, pemerintah daerah
CommunityKomunitasDiaspora, pelaku seni, alumni, komunitas lokal
MediaPublikasi & promosiMedia sosial, liputan nasional & internasional
Dampak Nyata Diplomasi Budaya
Diplomasi
Narasi Indonesia yang lebih seimbang — bukan hanya mitra ekonomi, tetapi bangsa berbudaya
Pendidikan
Double degree, pertukaran mahasiswa-dosen, dan riset bersama lintas negara
Ekonomi
Produk UMKM Indonesia diperkenalkan dan dipasarkan di Tiongkok
Jejaring
Menghubungkan pemangku kepentingan lintas sektor dan negara secara berkelanjutan
Replikasi
Model yang sudah terbukti dan siap direplikasi ke kota-kota lain di Tiongkok
Inspirasi
Mendorong generasi muda untuk menjadi agen diplomasi budaya dari kampus masing-masing

“RBI bukan sekadar ruang fisik. Ia adalah filosofi: budaya sebagai fondasi, warisan sebagai identitas, seni sebagai bahasa universal, dan diplomasi yang berinovasi bersama semua pihak. Inilah cara Indonesia memperkenalkan dirinya kepada dunia.”

Yudil Chatim, SKM., M.Ed. · Atase Pendidikan KBRI Beijing 2022–2026

Membangun Jejaring Diplomasi Multilateral: Dari Koneksi Menuju Dampak Nyata

Di panggung global, hubungan antarmanusia sering kali menjadi awal dari lahirnya perubahan. Sebuah perkenalan sederhana dapat membuka pintu dialog; sebuah percakapan dapat menumbuhkan kepercayaan; dan dari kepercayaan, dapat lahir kolaborasi yang melampaui batas negara dan budaya. Pesan inilah yang menjadi inti pemaparan I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa, Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO. Bagi para pemimpin muda, menurutnya, diplomasi multilateral bukan semata-mata tentang bagaimana sebuah negara menyampaikan kepentingannya di hadapan dunia — lebih dari itu, diplomasi adalah seni membangun jembatan yang mempertemukan manusia, gagasan, nilai, dan kepentingan yang berbeda untuk menemukan ruang kerja sama yang lebih besar.

Di Era AI, Manusia Tetap Menjadi Penentu

Memasuki era disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, Satrya Wibawa mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan peran utamanya. Kecanggihan perangkat digital bukanlah ukuran utama kualitas seorang pemimpin. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan manusia menggunakan akal budi, intuisi, kreativitas, dan daya pikir kritis untuk membaca persoalan dan mengambil keputusan yang tepat.

AI hanyalah alat. Nilai dan kualitas yang dihasilkannya tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya — pada ketajaman pertanyaan, ketepatan instruksi, kemampuan memahami konteks, dan kedalaman berpikir kritis. Di sinilah kepemimpinan masa depan menemukan tantangannya: bukan bersaing dengan teknologi, tetapi menjadi manusia yang mampu menggunakan teknologi dengan kecerdasan, etika, dan tujuan yang jelas.

Networking Bukan Sekadar Tukeran IG

Dalam dunia yang semakin terkoneksi, membangun jejaring internasional menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda. Namun, Satrya Wibawa mengingatkan dengan bahasa yang sederhana namun kuat bahwa jejaring tidak boleh berhenti pada jumlah kontak atau seberapa banyak orang yang dikenal.

Slide Networking Global oleh I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa — Contact, Connection, Trust, Collaboration, Impact
Slide Satrya Wibawa: “Networking global bukan sekadar tukeran IG” — membangun relasi bermakna melalui lima tahapan: Contact → Connection → Trust → Collaboration → Impact. Klik gambar untuk memperbesar.

"Networking global bukan sekadar tukeran IG."

I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa · Duta Besar RI untuk UNESCO

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa hubungan internasional membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar koneksi digital. Mengenal seseorang belum tentu berarti memiliki hubungan. Memiliki hubungan belum tentu melahirkan kepercayaan. Dan kepercayaan pun baru bermakna ketika mampu diterjemahkan menjadi kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata.

Lima Tahapan: Dari Contact Menuju Impact

Satrya Wibawa memetakan bagaimana sebuah perjumpaan dapat berkembang menjadi kolaborasi yang memberikan dampak nyata melalui lima tahapan yang ia sebut sebagai perjalanan membangun jejaring bermakna.

Tahap 1
Contact — Kontak Awal
Semua hubungan besar dimulai dari sebuah perjumpaan. Forum internasional menjadi pintu untuk mengenal orang, gagasan, dan perspektif yang berbeda.
Tahap 2
Connection — Koneksi Bermakna
Kontak berkembang menjadi koneksi ketika ditemukan kesamaan visi, nilai, atau ketertarikan. Hubungan mulai memiliki arah dan makna.
Tahap 3
Trust — Kepercayaan
Integritas, konsistensi, keterbukaan, dan kemampuan menjaga komitmen menjadi fondasi hubungan yang bertahan dalam jangka panjang.
Tahap 4
Collaboration — Kolaborasi Strategis
Kepercayaan yang tumbuh diterjemahkan menjadi program dan aksi nyata — dalam pendidikan, riset, kebudayaan, ekonomi, maupun bidang sosial.
Tahap 5
Impact — Dampak Nyata
Tahap tertinggi dari jejaring bukan banyaknya koneksi, melainkan dampak yang lahir darinya: perubahan, peluang baru, dan manfaat yang lebih luas.

Generasi muda Indonesia, tegasnya, tidak cukup hanya menjadi peserta dalam forum internasional, berfoto bersama tokoh dunia, atau menambah koneksi di media sosial. Mereka perlu belajar membaca peluang, membangun kepercayaan, merawat hubungan, dan mengubah jejaring menjadi kekuatan untuk menciptakan solusi. Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu berbicara kepada dunia — dunia membutuhkan generasi yang mampu mendengarkan, memahami perbedaan, membangun jembatan, dan bekerja bersama untuk menciptakan perubahan.

Dan bagi Indonesia, jejaring global yang dibangun oleh anak-anak mudanya bukan sekadar aset personal. Ia dapat menjadi jembatan diplomasi, ruang pertukaran gagasan, sekaligus jalan untuk membawa kepentingan dan kontribusi Indonesia ke panggung dunia.


Laporan Global UNESCO dan Kompetensi Abad 21: Perspektif Prof. Ismunandar

Slide UNESCO Global Reports on Education — dipaparkan oleh Prof. Ismunandar dalam forum IYLA 2026
Slide Prof. Ismunandar, Ph.D. — UNESCO Global Reports on Education: dari Learning to Be (1971–72), Learning: The Treasure Within (1993–96), hingga Reimagining Our Futures Together (2021). Klik gambar untuk memperbesar.

Dalam sesi yang sama, Prof. Ismunandar, Ph.D., Staf Ahli Menteri Kebudayaan RI, mengajak peserta memahami perjalanan pemikiran UNESCO mengenai masa depan pendidikan. Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar instrumen untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan — pendidikan justru memiliki kekuatan untuk membentuk dan mengubah dunia.

Suasana forum daring — Prof. Ismunandar, Ph.D. saat memaparkan materi dalam IYLA 2026 Batch 2
Suasana forum daring IYLA 2026 — Prof. Ismunandar, Ph.D. saat memaparkan materi tentang kearifan lokal dan integrasi teknologi dalam konteks laporan UNESCO. Klik untuk memperbesar.

Para pemuda dan mahasiswa kembali diingatkan untuk memperkuat literasi digital serta literasi keuangan guna membentengi diri dari risiko modern seperti jeratan pinjaman online (pinjol).

Materi Pemaparan · Prof. Ismunandar, Ph.D.
Laporan Global UNESCO & Kompetensi Abad 21: Fondasi Kepemimpinan Generasi Muda
Staf Ahli Menteri Kebudayaan RI · Delegasi Indonesia untuk UNESCO

Prof. Ismunandar membawa perspektif historis yang kuat: selama lebih dari 50 tahun, UNESCO telah menerbitkan tiga laporan global pendidikan yang masing-masing mengubah cara dunia memandang peran belajar. Ketiganya bukan sekadar dokumen akademik — melainkan kontrak sosial baru antara pendidikan dan peradaban.

Tiga Laporan Global UNESCO yang Mengubah Dunia
1971–1972
Learning to Be: The World of Education Today and Tomorrow
Diketuai Edgar Faure, mantan Perdana Menteri dan Menteri Pendidikan Prancis. Meletakkan fondasi konsep pendidikan sepanjang hayat.
1993–1996
Learning: The Treasure Within
Diketuai Jacques Delors, mantan Presiden Komisi Eropa dan mantan Menteri Keuangan Prancis. Melahirkan 4 pilar belajar.
“Learning to be, learning to know, learning to do, and learning to live together.”
— Belajar menjadi diri sendiri, belajar mengetahui, belajar berbuat, dan belajar hidup bersama.
2021
Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education
Disusun oleh pemikir global lintas benua. Pendidikan sebagai kontrak sosial baru untuk masa depan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Prestasi Indonesia di UNESCO: 16 Warisan Budaya Takbenda Diakui Dunia

Prof. Ismunandar menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia di UNESCO bukan hanya soal hadir dalam forum global — tetapi juga soal membuktikan kekayaan peradaban bangsa kepada dunia. Hingga 2024, 16 warisan budaya takbenda Indonesia telah resmi diakui UNESCO sebagai bagian dari Intangible Cultural Heritage of Humanity — menjadikan Indonesia salah satu negara dengan kekayaan warisan takbenda terbesar di Asia Tenggara.

2003 & 2008
Wayang & Keris
Wayang — seni bercerita yang memadukan moral, gamelan, dan filsafat kehidupan. Keris — senjata pusaka yang menyimpan nilai spiritual dan identitas Nusantara.
2009
Batik Indonesia
Teknik membatik sarat filosofi kehidupan — dari batik keraton yang sakral hingga batik pesisir yang kaya warna dan motif.
2010 & 2011
Angklung & Tari Saman
Angklung dari Sunda — simbol kebersamaan. Tari Saman dari Aceh — gerakan serempak yang memukau dunia dan kini menjadi ikon diplomasi budaya Indonesia.
2012
Noken & Subak Bali
Noken — tas rajutan Papua, simbol kearifan lokal. Subak — sistem irigasi komunal Bali yang memadukan spiritualitas, pertanian, dan ekologi.
2015 & 2017
Tari Bali & Perahu Pinisi
Tiga golongan tari Bali sebagai ritual sakral dan ekspresi seni. Pinisi dari Sulawesi Selatan — simbol ketangguhan pelaut Nusantara yang mengarungi samudra.
2018 & 2019
Pencak Silat & Pantun
Pencak Silat — seni bela diri yang memadukan gerakan, musik, dan nilai moral. Pantun — tradisi lisan bersajak yang hidup di berbagai budaya Melayu dan Nusantara.
2021 & 2023
Gamelan & Jamu
Gamelan — orkestra perkusi yang mencerminkan harmoni sosial. Jamu — tradisi pengobatan herbal sejak abad ke-8 yang menjadi identitas kesehatan bangsa.
2024 — Terbaru ✦
Reog Ponorogo, Kebaya & Kolintang
Tiga warisan baru yang diakui dalam sidang UNESCO Desember 2024 — menjadikan total 16 warisan budaya takbenda Indonesia di daftar ICH UNESCO.

Pencapaian ini belum berakhir. Pemerintah Indonesia kini tengah mengusulkan tempe sebagai kandidat warisan budaya takbenda berikutnya ke UNESCO — sebuah pengingat bahwa kearifan lokal, dari dapur hingga sawah, dari panggung seni hingga jalur laut, adalah aset diplomasi budaya yang tidak ternilai. Bagi generasi muda, memahami warisan ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan modal nyata untuk hadir di panggung global dengan identitas yang kokoh dan narasi yang kuat tentang Indonesia.

Menguasai 7 C's dan New Literacies Abad 21

Di era disrupsi, belajar saja tidak cukup — yang dibutuhkan adalah menguasai new literacies sekaligus tujuh kompetensi inti abad 21. Ia menyoroti Cross-cultural Understanding sebagai kompetensi yang paling relevan dalam konteks sinergi global yang dibangun forum ini.

New Literacies
Data Literacy
Technology Literacy
Human Literacy
Lifelong Learning
7 C's Skills
1Critical Thinking
2Creativity
3Collaboration
4Cross-cultural Understanding ★
5Communication
6Computing & ICT Literacy
7Career & Learning Self-reliance
Diplomasi Lintas Budaya: Kepercayaan Dibangun dengan Hubungan Personal

Melalui foto-foto ikonik yang ditampilkan, ia mengilustrasikan bahwa kerja sama paling bermakna lahir dari hubungan personal yang melampaui batas ideologi — sebuah pelajaran yang relevan bagi pemimpin muda Indonesia yang sedang membangun jejaring internasionalnya.

🤝
Mitterrand & Kohl
Rekonsiliasi Prancis–Jerman pascaperang — fondasi Uni Eropa
🌐
Reagan & Gorbachev
Akhir Perang Dingin — dibangun di atas kepercayaan lintas ideologi
📋
Diplomasi Nuklir Iran
Negosiasi kompleks yang membuktikan dialog lebih kuat dari konfrontasi

“Education does more than respond to a changing world — Education changed the world.”

Pendidikan bukan sekadar merespons dunia yang berubah. Pendidikan mengubah dunia itu sendiri.

UNESCO, Reimagining Our Futures Together, 2021

Tanya Jawab: Dari Literasi hingga Kolaborasi Pemuda

Sesi pemaparan materi oleh para narasumber tidak menjadi satu-satunya magnet dalam forum ini. Sesi tanya jawab yang dipandu sang moderator justru menjelma menjadi ruang diskusi yang sama hidupnya — penuh pertanyaan kritis dari peserta yang datang dari berbagai daerah, dan tanggapan langsung dari para ahli yang tidak kalah tajam.

Akses Informasi Program dan Agenda Lanjutan

Antusiasme peserta terbaca jelas sejak awal — kolom chat dipenuhi pertanyaan seputar mekanisme keikutsertaan dan keberlanjutan program. Menanggapi hal itu, Yudil memberikan penjelasan rinci: tautan resmi pendaftaran telah disertakan dalam surat undangan yang didistribusikan ke berbagai kampus di seluruh Indonesia dan akan dibagikan kembali kepada peserta. Ia juga mengumumkan agenda berskala nasional yang sudah menanti, yakni National Leader Forum (NLF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Bandung — sebuah kabar yang disambut hangat oleh para peserta.

Inisiatif Mahasiswa di Daerah dan Kritik atas Peran Pemerintah

Salah satu momen paling berkesan datang dari pertanyaan kritis Elisa, peserta asal Palembang, yang mempertanyakan bentuk aksi nyata yang bisa dilakukan mahasiswa dalam mengatasi persoalan literasi di daerah. Pertanyaan itu mendapat respons tegas dari dua narasumber sekaligus.

Yudil dan Dr. Sjahriati sepakat menekankan satu hal: pemuda tidak boleh terus-menerus menunggu pemerintah bergerak. Peran pemerintah memang bersifat struktural dan administratif, namun ruang gerak pemuda jauh lebih lincah. Mahasiswa didorong untuk mengambil inisiatif lokal secara mandiri melalui model kolaborasi pentahelix — yang menyatukan lima unsur: akademisi, dunia usaha dan industri, pemerintah, komunitas masyarakat, serta media. Dua pintu konkret yang langsung disodorkan: mengoptimalkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan memanfaatkan virtual library yang bisa diakses bahkan di hari libur — dua jalur yang selama ini belum dimaksimalkan banyak daerah.

Merajut Solidaritas Kebangsaan dan Kedekatan dengan Papua

Bagian yang paling menyentuh dalam sesi tanya jawab justru lahir dari respons sang Presiden KAPPIJA21 terhadap aspirasi peserta dari wilayah timur Indonesia. Dengan nada hangat dan tulus, ia berbagi pengalaman bertahun-tahun membina ribuan pemuda Papua dan daerah-daerah yang selama ini kerap disebut “pinggiran.” Baginya, tidak ada yang pinggiran dalam keluarga besar Indonesia.

“Meski latar belakang fisik berbeda, hati saya keriting — demi merajut solidaritas kebangsaan yang erat.”

Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M. · Presiden KAPPIJA21

(Ungkapan ini bermakna: meski berbeda suku dan latar belakang, ia merasakan kedekatan hati yang dalam dengan semua anak bangsa, termasuk saudara-saudaranya dari Papua dan wilayah timur Indonesia.)

Forum kemudian ditutup dengan apresiasi kepada tiga penanya terbaik yang memperoleh door prize dari Pak Imam, dilanjutkan dengan pengisian daftar hadir dan sesi foto bersama yang didokumentasikan oleh Mas Ardan.

Sederhana, tetapi hangat. Sebuah penutup yang terasa tepat untuk forum yang sejak awal tidak hanya berbicara tentang kepemimpinan, tetapi juga tentang hubungan antarmanusia, solidaritas, dan keberanian untuk menjadi jembatan.

Dr. Sjahriati Rochmah
Narasumber
Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M.
Presiden KAPPIJA21 · Staf Ahli Kemensesneg RI · Ketua ToT Lemhanas 223
I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa
Narasumber
I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa
Duta Besar / Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO
Yudil Chatim
Narasumber
Yudil Chatim, SKM., M.Ed.
Atase Pendidikan RI di Beijing 2022–2026 · Plt. Ketua Global Sinergi Lintas Generasi
Prof. Ismunandar Ph.D.
Narasumber
Prof. Ismunandar, Ph.D.
Staf Ahli Menteri Kebudayaan RI
Dr. Rizqy Ghassani
Moderator
Dr. Rizqy Ghassani, S.Sos., M.Ikom.
Dosen Universitas Kebangsaan RI · Prakarsa Akademia Generasi Emas (PAGE)
Dari Forum Menuju Aksi

Episode kedua IYLA 2026 bukan sekadar forum berbagi pengetahuan. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan jejaring dari berbagai daerah dalam satu kesadaran bersama: pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk memimpin, tetapi juga harus mampu menghubungkan.

Menghubungkan manusia dengan manusia. Menghubungkan budaya dengan budaya. Menghubungkan gagasan dengan tindakan. Dan pada akhirnya, menghubungkan Indonesia dengan dunia.

Sepuluh episode berikutnya akan bermuara pada National Leader Forum (NLF) 2026 bertema “Next Gen Leaders Summit: Pahlawan Hari Ini, Pemimpin Dunia Masa Depan” — berlangsung di Bandung pada 26–29 November 2026, di UKRI, Museum Virajati Seskoad, Gedung Sate, dan Saung Angklung Udjo.

Karena pemimpin masa depan bukan hanya mereka yang mampu berdiri di depan, tetapi mereka yang mampu membangun jembatan agar semakin banyak orang dapat berjalan bersama.

Indonesia cannot afford to stand on the sidelines as the world transforms around it. That conviction brought hundreds of young leaders from across the archipelago together for the online forum Global Leadership & Diplomacy AcademyEpisode 2: "Building Synergy Across Nations and Cultures" — held by the International Youth Leadership Academy (IYLA) 2026 Batch 2 in partnership with KAPPIJA21, on Monday, September 7, 2026.

The forum brought together four speakers from diverse backgrounds — diplomats, academics, and education diplomacy practitioners — to share their perspectives and experiences on how young Indonesians can step up as bridges between civilizations in a world that grows ever more connected, yet ever more fragile.

The session opened at 3:30 PM Western Indonesia Time, moderated by Dr. Rizqy Ghassani, S.Sos., M.Ikom. Before discussion began, all participants rose together to sing the national anthem, Indonesia Raya — a reminder that even in a forum with global ambitions, national identity remains the bedrock.

Opening remarks were delivered by Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M., President of KAPPIJA21. She set the tone with a message about cross-regional solidarity and the power of intergenerational networks before handing the floor to the speakers.

IYLA 2026: Building an Ecosystem for Young Leaders

The International Youth Leadership Academy (IYLA) 2026 is a leadership development program conceived by KAPPIJA21 (the Alumni Association of the Indonesia–Japan Friendship Program of the 21st Century), an alumni organization that brings together participants of the Indonesia–Japan friendship exchange and has long been active in developing Indonesian human capital.

IYLA is more than a webinar series. It is designed as a leadership ecosystem — a space where talented young people from all corners of Indonesia come together to learn, build networks, collaborate, generate ideas, and take meaningful action. Aligned with the national vision of "Advancing Indonesia Together, Toward the Golden Indonesia 2045," IYLA 2026 runs for 12 weekly online episodes from August through November 2026, each tackling a strategic theme — from multilateral diplomacy and collaborative leadership to the role of youth in global challenges.

September 7's forum was the second of twelve episodes, with ten more still to come — each one deepening participants' knowledge, networks, and leadership capacity. The theme: Bridge Builders Academy: Building Synergy Across Nations & Cultures.

Getting to the Root of Indonesia's Literacy Crisis

Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M. opened her session with an issue that hits close to home for millions of Indonesians: literacy. The problem, she argued, runs deeper than a lack of interest in reading. The real obstacle is access — or the lack of it. Physical books cost between IDR 80,000 and 199,000; bought regularly, that adds up to more than one million rupiah a year, a burden many families simply cannot shoulder.

The picture at school libraries is equally sobering. Around sixty percent are poorly equipped, with collections of just a few hundred books — many of them outdated. In 3T regions (Underdeveloped, Frontier, and Outermost areas), the challenges compound: publishers remain concentrated in Java and Bali, shipping costs are high, internet connectivity is unreliable, and trained librarians are scarce.

Proposed Solutions
  • Government subsidies for paper and book shipping costs
  • One village, one library concept, along with mobile libraries and floating libraries deployed with the military (TNI)
  • Revitalizing community halls with bookshelves, at least 50 new titles, and smartboards
  • A Parent Literacy Movement — 15 minutes of reading with children each day, screens off
  • Maximizing Community Reading Centers (TBM) and virtual libraries accessible even on public holidays

Study Opportunities in China and Career Prospects for Mandarin Graduates

Yudil Chatim, SKM., M.Ed., Indonesia's Education and Cultural Attaché in Beijing from 2022 to 2026, walked participants through the expanding opportunities awaiting Indonesian students in China. No Mandarin? Not a problem — students pick it up on the ground. No TOEFL required either.

More than a hundred students from Papua have already made the journey and thrived. Aldo, from Southwest Papua, competed in a Mandarin singing competition. Grace — also known as Aurel — from Nabire, graduated as a medical doctor. Their stories offer a simple message: where you come from is not what limits how far you can go. As Chinese investment in Indonesia continues to grow, graduates with Mandarin skills are increasingly competitive in a labor market hungry for cross-cultural communicators.

Building Global Diplomatic Networks: From Connection to Real Impact

On the world stage, the most consequential changes often begin with a single conversation. A simple introduction opens a door. A frank exchange builds trust. And from trust, collaboration can grow across borders of every kind. This was the central message from I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa, Indonesia's Ambassador and Permanent Delegate to UNESCO. For young leaders, he said, multilateral diplomacy is not just about projecting national interests — it is the art of building bridges between people, ideas, and values that might otherwise never meet.

In the Age of AI, Human Judgment Still Reigns

As artificial intelligence reshapes nearly every field, Satrya Wibawa urged young people not to mistake technological power for human capability. The sophistication of a digital tool is not what defines a great leader. What matters far more is the ability to deploy judgment, intuition, creativity, and critical thinking — to read a situation clearly and make decisions wisely. AI is only as good as the prompts it receives. The quality of what it produces depends entirely on the quality of the human directing it. That is where leadership lives.

Networking Is Not About Collecting Followers

"Global networking is about so much more than trading Instagram handles."

I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa · Indonesia's Ambassador to UNESCO

Knowing someone is not the same as having a relationship. Having a relationship is not the same as earning trust. And trust only becomes meaningful when it translates into collaboration that creates real value. The size of your network matters far less than the depth of the connections within it.

Five Stages: From Contact to Impact

Stage 1
Contact
Every great relationship begins with a first meeting. International forums are the doorway to people, ideas, and perspectives you've never encountered before.
Stage 2
Connection
A contact becomes a connection when you discover shared values, vision, or curiosity. The relationship finds direction.
Stage 3
Trust
Integrity, consistency, openness, and follow-through are the foundations of lasting relationships — across borders and across ideologies.
Stage 4
Collaboration
When trust takes root, conversations become projects. Ideas become programs in education, research, culture, or social impact.
Stage 5
Impact
The highest measure of a network is not its size — it is the change it creates. A relationship earns its value when it opens doors, solves problems, and improves lives.

Indonesian youth, he reminded the room, cannot be content with simply attending international forums, posing for photos with world leaders, or growing their follower count. They need to learn to read opportunities, earn trust, nurture relationships, and turn their networks into engines of real change. The world does not just need young people who can speak to the global stage. It needs people who can listen, bridge differences, and work together to build something better.

UNESCO's Global Education Reports and the Competencies of the 21st Century

In the same session, Prof. Ismunandar, Ph.D., Special Advisor to the Minister of Culture, invited participants to trace UNESCO's evolving vision for the future of education. His message was clear: education is not merely a tool for adapting to a changing world — it is a force capable of shaping and remaking the world itself.

He walked participants through three landmark UNESCO reports spanning more than fifty years, each representing a new social contract between education and civilization. He also highlighted Indonesia's remarkable track record at UNESCO: 16 intangible cultural heritage elements now officially inscribed on the UNESCO ICH list — spanning Wayang and Keris (2003, 2008), Batik (2009), Angklung and Saman Dance (2010, 2011), Noken and Subak of Bali (2012), Balinese Dances and Pinisi Boatbuilding (2015, 2017), Pencak Silat and Pantun (2018, 2019), Gamelan and Jamu traditional wellness culture (2021, 2023), and most recently Reog Ponorogo, Kebaya, and Kolintang in December 2024. A nomination for tempeh is currently pending. These inscriptions are more than honorary titles — they are instruments of cultural diplomacy, amplifying Indonesia's voice in the global conversations that shape our world.

"Education does more than respond to a changing world — Education changed the world."

UNESCO · Reimagining Our Futures Together, 2021

Q&A: From Literacy to Youth Collaboration

The speakers' presentations were only half the story. The Q&A session, guided by moderator Dr. Rizqy Ghassani, crackled with energy — participants from across Indonesia pushing back, probing deeper, and demanding practical answers.

Yudil and Dr. Sjahriati delivered a message that landed with clarity: young people cannot keep waiting for the government to move. Government has its structural and administrative role — but youth have something more valuable: agility. The answer lies in building pentahelix collaboration — bringing together academia, business, government, community, and media in a shared effort to drive change from the ground up.

The most affecting moment came when Dr. Sjahriati responded to voices from eastern Indonesia. She spoke with warmth and candor about her years working alongside thousands of young people from Papua and the regions often dismissed as peripheral.

"My background may look different from theirs — but my heart is keriting. We are one family."

Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M. · President, KAPPIJA21

Keriting — the Papuan word for "curly hair" — used here as a tender, heartfelt expression of belonging and solidarity with the people of Papua and eastern Indonesia.

The session closed with prizes for the three best questions, a roll call, and a group photo documented by Mas Ardan. Simple. Warm. Exactly right for a forum that was never just about leadership — but about human connection, solidarity, and the courage to build bridges.

From Forum to Action

Episode 2 of IYLA 2026 was never simply a knowledge-sharing event. It was a space where ideas, experiences, and networks from across Indonesia converged around a single shared conviction: the leaders of tomorrow need more than the ability to lead — they must be able to connect.

Connecting people to people. Cultures to cultures. Ideas to action. And ultimately, Indonesia to the world.

The journey continues through ten more episodes, culminating in the National Leader Forum (NLF) 2026, themed "Next Gen Leaders Summit: Today's Heroes, Tomorrow's Global Leaders" — scheduled for Bandung, November 26–29, 2026, across landmark venues including Universitas Kebangsaan RI (UKRI), the Virajati Seskoad Museum, Gedung Sate, and Saung Angklung Udjo.

Because tomorrow's leaders are not only those who stand at the front — they are those who build bridges wide enough for everyone to walk across together.

変わりゆく世界を、ただ傍観しているわけにはいかない——そんな思いが、インドネシア各地から数百人の若きリーダーたちを一堂に集めた。グローバル・リーダーシップ&ディプロマシー・アカデミー——第2回「国と文化を超えたシナジーを築く」と題したオンラインフォーラムは、2026年9月7日(月)に、KAPPIJA21との共催により国際青年リーダーシップアカデミー(IYLA)2026バッチ2が開催したものだ。

フォーラムには、外交官、研究者、教育外交の実務家という多様な背景を持つ4人の登壇者が集まり、ますます繋がりながらも、その一方でますます脆くなっている世界の中で、若い世代がいかに文明の架け橋となれるかを語り合った。

午後3時30分(西インドネシア時間)に開始したセッションは、モデレーターのDr. Rizqy Ghassani, S.Sos., M.Ikom.が進行を担当。討議に先立ち、参加者全員でインドネシア国歌「インドネシア・ラヤ」を斉唱した。グローバルな視野を持つフォーラムでありながら、国家への帰属意識を大切にするという姿勢の表れだった。

開会の挨拶はKAPPIJA21会長のDr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M.が行い、地域を超えた連帯と世代をつなぐネットワークの力について語りかけた後、各登壇者が議論を展開した。

IYLA 2026:若きリーダーのエコシステムを築く

国際青年リーダーシップアカデミー(IYLA)2026は、KAPPIJA21(21世紀インドネシア日本友好プログラム同窓会)が企画したリーダーシップ育成プログラムだ。KAPPIJA21はインドネシア・日本友好交流プログラムの参加者で構成される同窓会組織で、長年にわたりインドネシアの人材育成に貢献してきた。

IYLAは単なるウェビナーシリーズではない。インドネシア各地から優秀な若者たちが集まり、学び、繋がり、協働し、アイデアを生み出し、具体的な行動を起こすためのリーダーシップのエコシステムとして設計されている。「共に前進するインドネシア、黄金のインドネシア2045へ」というビジョンに沿って、2026年8月から11月にかけて毎週1回、計12回のオンライン講座を実施。多国間外交から協働型リーダーシップ、地球規模の課題における若者の役割まで、毎回戦略的なテーマを掘り下げる。

9月7日のフォーラムは全12回中の第2回にあたり、残り10回のセッションが参加者の知識・ネットワーク・リーダーシップ能力をさらに深めていく。今回のテーマはブリッジ・ビルダーズ・アカデミー:国と文化を超えたシナジーを築くだ。

インドネシアの識字問題の根本に迫る

KAPPIJA21会長のDr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M.は、多くのインドネシア国民にとって身近な問題である識字率から議論を始めた。問題の本質は「本を読む気がない」ことではない、と彼女は強調する。真の壁はアクセスの欠如だ。本の価格は8万〜19万9千ルピアと決して安くなく、定期的に購入すれば年間100万ルピア以上の出費となる——多くの家庭にとって決して軽くない負担だ。

学校図書館の実態も厳しい。約60%が施設・設備が不十分で、蔵書も数百冊程度の古い本ばかりというケースが多い。辺境・最前線・最外縁地域(3T地域)では課題はさらに深刻だ。出版社はジャワ島とバリ島に集中し、離島への輸送コストは高く、インターネット環境は不安定で、司書の人材も不足している。

提案された解決策
  • 政府による紙代・送料の補助
  • 「1村1図書館」構想、移動図書館、TNI(インドネシア国軍)と連携した水上図書館
  • 村の集会所にブックシェルフ・新刊50冊以上・スマートボードを設置する再活性化
  • 親子識字運動——毎日15分、端末・テレビを切って子どもと一緒に本を読む
  • 地域読書センター(TBM)や休日も利用できるバーチャル図書館の活用推進

中国への留学機会と中国語卒業生のキャリア展望

2022〜2026年に駐北京インドネシア大使館の教育文化アタッシェを務めたYudil Chatim, SKM., M.Ed.は、中国留学の可能性を参加者に伝えた。中国語が話せなくても大丈夫——現地で学べる。TOEFLも不要だ。

すでに100人以上のパプア出身の学生が中国で学び、目覚ましい適応力を見せている。南西パプア出身のアルドは中国語の歌唱コンテストに出場し、ナビレ出身のグレース(オーレルとも呼ばれる)は医師として卒業した。出身地は未来を制限しない——彼らの物語はそれを証明している。中国のインドネシアへの投資が拡大する中、中国語を習得した卒業生は、語学力と異文化理解力を求める労働市場でますます競争力を発揮している。

多国間外交ネットワークの構築:つながりから本物のインパクトへ

世界の舞台では、最も大きな変化はしばしば一つの会話から始まる。ちょっとした紹介が扉を開き、率直な対話が信頼を育み、その信頼から国境を越えた協働が生まれる——これがユネスコ駐在インドネシア大使・常駐代表のI Gusti Agung Ketut Satrya Wibawaの核心的なメッセージだ。若いリーダーにとって多国間外交とは、単に国益を世界に向けて表明することではなく、人々、アイデア、価値観を結びつける橋を架ける技術だ、と彼は語る。

AI時代も、判断を下すのは人間だ

人工知能があらゆる分野を塗り替えつつある今、Satrya Wibawaはデジタルツールの洗練さをリーダーシップの尺度と混同しないよう促した。真に重要なのは判断力、直感、創造性、批判的思考——状況を正確に読み取り、賢明な意思決定を下す能力だ。AIは道具に過ぎない。その出力の質は、それを使う人間の質——問いの鋭さ、文脈の理解、思考の深さ——に完全に依存している。リーダーシップはそこにこそある。

ネットワーキングはフォロワーを増やすことではない

「グローバルなネットワーキングとは、SNSのアカウントを交換し合うだけのことではありません。」

I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa · ユネスコ駐在インドネシア大使

誰かを知っているということは、関係があるということではない。関係があるということは、信頼があるということでもない。そして信頼は、協働という形で具体化されて初めて意味を持つ。ネットワークの価値はその広さではなく、深さにある。

5段階:コンタクトからインパクトへ

第1段階
Contact(接触)
すべての大きな関係は、最初の出会いから始まる。国際フォーラムは、これまで出会ったことのない人々、アイデア、視点への入り口だ。
第2段階
Connection(つながり)
共通のビジョンや価値観、好奇心を見出したとき、接触はつながりへと発展する。関係に方向性が生まれる。
第3段階
Trust(信頼)
誠実さ、一貫性、率直さ、そして約束を守る力——これらが国境とイデオロギーを越えた長続きする関係の礎だ。
第4段階
Collaboration(協働)
信頼が根を張ると、対話はプロジェクトへと変わる。アイデアが教育・研究・文化・社会課題の解決プログラムへと結実する。
第5段階
Impact(インパクト)
ネットワークの真価はその規模ではなく、そこから生まれる変化だ。扉を開き、問題を解決し、人々の生活を改善したとき、関係は初めてその価値を証明する。

ユネスコの世界教育レポートと21世紀型コンピテンシー

同セッションでProf. Ismunandar, Ph.D.(文化大臣上席顧問)は、ユネスコの教育に関する思想的歩みを辿るよう参加者を誘った。彼のメッセージは明快だ——教育とは変化する世界への適応ツールではなく、世界そのものを形作り、塗り替える力だ。

彼は50年以上にわたる3つの画期的なユネスコ報告書を紹介した。そしてユネスコにおけるインドネシアの輝かしい実績も取り上げた——現在、16件の無形文化遺産がユネスコのICHリストに登録されている。ワヤンと剣クリス(2003・2008年)、バティック(2009年)、アンクルンとサマン舞踊(2010・2011年)、ノケン(パプアの編み袋)とバリ島のスバック水利システム(2012年)、バリの伝統舞踊とピニシ船建造技術(2015・2017年)、プンチャック・シラットとパントゥン(2018・2019年)、ガムランとジャム伝統医療文化(2021・2023年)、そして2024年12月に新たに加わったReog Ponorogo、ケバヤ(伝統衣装)、コリンタン(打楽器)だ。現在、テンペも申請中である。これらの登録は単なる称号ではなく、インドネシアが世界の議論においてより大きな発言力を持つための、文化外交の重要な手段だ。

「教育は変わりゆく世界に応えるだけではない——教育は世界を変えてきた。」

ユネスコ『共に未来を再考する』2021年

質疑応答:識字問題から若者の協働まで

登壇者の発表はフォーラムの半分に過ぎなかった。モデレーターのDr. Rizqy Ghassaniが仕切る質疑応答は活気に満ちており、インドネシア各地からの参加者が疑問をぶつけ、より深い問いを掘り下げ、具体的な答えを求めた。

YudilDr. Sjahriatiは明快なメッセージを届けた——若者は政府が動くのを待ち続けてはいけない。政府には構造的・行政的な役割がある。しかし若者にはより価値あるものがある:機動性だ。答えはペンタヘリックス協働にある——大学・産業界・行政・地域社会・メディアという5つの主体が力を合わせ、草の根からの変化を起こすことだ。

最も胸を打ったのは、Dr. Sjahriatiがインドネシア東部の参加者からの声に応えたときだった。彼女はパプアや「辺境」と呼ばれがちな地域の何千もの若者たちと共に歩んだ長年の経験を、温かく率直に語った。

「見た目は違っていても、私の心はkeriting(縮れている)——インドネシアという大きな家族への深い帰属感を込めて、そう表現するのです。」

Dr. Sjahriati Rochmah, S.H., M.Hum., LL.M. · KAPPIJA21会長

セッションは、上位3名の質問者へのプレゼント贈呈、出席記録の記入、そしてArdan氏が撮影したグループ写真で締めくくられた。シンプルで、温かな幕切れ。それはリーダーシップだけでなく、人と人とのつながり、連帯、そして橋を架ける勇気について語ってきたフォーラムにふさわしい締めくくりだった。

フォーラムから行動へ

IYLA 2026の第2回は、単なる知識共有の場ではなかった。インドネシア各地のアイデア、経験、ネットワークが一堂に会し、一つの共通認識のもとに結実した場だった——明日のリーダーに必要なのは「導く力」だけではない。「つなぐ力」こそが問われている。

人と人をつなぐ。文化と文化をつなぐ。アイデアを行動につなぐ。そして最終的に、インドネシアを世界につなぐ。

この旅はさらに10回のエピソードを経て、ナショナル・リーダー・フォーラム(NLF)2026——テーマ:「ネクスト・ジェン・リーダーズ・サミット:今日の英雄、明日の世界のリーダー」——へと結実する。2026年11月26〜29日にバンドゥンで開催予定で、UKRI(インドネシア国民大学)、ヴィラジャティ・セスコード博物館、グダン・サテ、サウン・アンクルン・ウジョなど象徴的な会場が用意されている。

なぜなら、明日のリーダーとは、先頭に立つ者だけではない——より多くの人が共に歩めるよう、橋を架ける者だからだ。

Dr. Sjahriati Rochmah
I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa
Yudil Chatim
Prof. Ismunandar Ph.D.
Dr. Rizqy Ghassani
Networking Global — I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa — full view
UNESCO Global Reports on Education — full view
Scroll to Top