Alumni Nakasone

logokappija

Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia Jepang Abad 21

KAPPIJA21 × PAGE — Catatan Pengabdian Pesisir

41 Mata Air

Merawat lingkungan, menjaga budaya, di pesisir Jakarta Utara
Marunda & Kota Tua, Jakarta Utara Sabtu, 8 Agustus 2026 53 peserta

Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21 (KAPPIJA21) bersama Prakarsa Akademia Generasi Emas (PAGE) menggelar Giat “41 Mata Air” di kawasan pesisir Jakarta Utara, Sabtu, 8 Agustus 2026. Kegiatan ini memadukan kepedulian terhadap lingkungan, pengabdian kepada masyarakat, pendidikan, serta pelestarian seni dan budaya.

Giat “41 Mata Air” dilaksanakan di sejumlah lokasi yang memiliki nilai lingkungan dan sejarah, yakni Pantai Marunda, Rumah Si Pitung, Kampoeng Toegoe, dan Studio Wayang Kota Tua. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen untuk bersama-sama merawat lingkungan sekaligus mengenalkan kekayaan sejarah dan budaya Jakarta kepada generasi muda.

Penerimaan peserta di RPTRA Sirih Kuning Marunda
Pagi itu, 53 peserta memadati RPTRA Sirih Kuning — titik kumpul yang menjadi awal dari seluruh perjalanan Giat “41 Mata Air”.

Kegiatan ini juga bersinergi dengan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie serta melibatkan Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Jakarta Utara.

Kolaborasi semakin luas dengan hadirnya perwakilan dosen dari berbagai perguruan tinggi, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Mereka berasal dari Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Universitas Pasundan Bandung, Universiti Malaysia Sarawak, dan Universidade da Paz Timor-Leste.

Keterlibatan lintas perguruan tinggi tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi ruang kolaborasi akademik yang melampaui batas institusi dan negara. Lingkungan, kebudayaan, serta masyarakat menjadi titik temu untuk membangun pengetahuan dan kepedulian secara bersama.

Dari unsur pemerintahan dan masyarakat setempat, kegiatan turut dihadiri Lurah Marunda Viktor Deo Parulian Marbun, Ketua Dekopinda Jakarta Utara H. Endang Muchtar, serta Syaiful Rahman dari instansi pemerintah. Sementara itu, KAPPIJA21 diwakili oleh Wakil Sekretaris Jenderal Seni Asiati Bachsin bersama Wakil Ketua Imam Nuraryo.

Sambutan dari Lurah Marunda Viktor Deo Parulian Marbun
Lurah Marunda, Viktor Deo Parulian Marbun, membuka rangkaian acara dengan sambutan hangat kepada seluruh peserta.
Wakil ketua KAPPIJA21, Imam Nuraryo dan Wasekjen KAPPIJA21, Seni Asiati Bachsin
Imam Nuraryo, Wakil Ketua KAPPIJA21, dan Seni Asiati Bachsin, Wasekjen KAPPIJA21, mewakili organisasi sepanjang rangkaian kegiatan.

Suasana penyambutan itu turut dimeriahkan oleh tarian Betawi yang dibawakan anak-anak remaja Marunda, sebelum rombongan bergerak turun ke pesisir untuk memulai kerja bersama.

Tarian Betawi yang disajikan anak-anak remaja di Marunda
Sebelum rombongan turun ke pesisir, anak-anak remaja Marunda menyuguhkan tarian Betawi sebagai ucapan selamat datang.

Bersih Pantai dan Merawat Lingkungan Pesisir

Salah satu agenda utama Giat “41 Mata Air” adalah kegiatan bersih-bersih Pantai Marunda. Para peserta bersama-sama membersihkan kawasan pesisir sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan keberlanjutan wilayah pesisir.

Giat bersih-bersih pantai Marunda
Satu per satu, sampah diangkat dari bibir Pantai Marunda — kerja bersama yang menjadi inti dari Giat “41 Mata Air”.

Kegiatan lingkungan tersebut menjadi bagian dari pesan yang lebih luas bahwa pelestarian alam tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia pendidikan, pemerintah, dan berbagai organisasi untuk membangun kebiasaan menjaga lingkungan secara berkelanjutan.

Dari kawasan pesisir, rangkaian kegiatan berlanjut pada pengenalan sejarah dan kebudayaan Betawi. Rumah Si Pitung menjadi salah satu titik penting dalam kegiatan untuk mengenal kembali sosok, kisah, dan artefak yang berkaitan dengan sejarah masyarakat Betawi — sosok legendaris yang ternyata bukan sekadar mitos, dan jejaknya tercatat nyata dalam sejarah Betawi.

Foto bersama di Rumah Si Pitung
Rombongan singgah di Rumah Si Pitung, menyusuri jejak sang jagoan yang ternyata pernah benar-benar hidup di tanah Betawi.

Menghidupkan Kembali Kekayaan Budaya Jakarta

Selain lingkungan, aspek kebudayaan menjadi bagian penting dari Giat “41 Mata Air”. Peserta mendapatkan ruang untuk mengenal dan mengapresiasi seni keroncong dan dondang sayang, sekaligus menelusuri kekayaan budaya Jakarta melalui berbagai situs dan ruang kebudayaan.

Kunjungan ke Kampoeng Toegoe menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan sejarah dan kebudayaan yang tumbuh di Jakarta. Sebagai bentuk penghormatan, plakat diserahkan oleh Imam Nuraryo, Wakil Ketua KAPPIJA21, kepada Lisa Michels, pelestari budaya keroncong Toegoe — warisan keturunan Portugis di Jakarta yang terus dijaga hingga kini.

Penyerahan plakat oleh Imam Nuraryo kepada Lisa Michels
Sebagai tanda terima kasih, Imam Nuraryo, Wakil Ketua KAPPIJA21, menyerahkan plakat kepada Lisa Michels, penjaga setia keroncong Toegoe, warisan keturunan Portugis di Jakarta.

Sementara itu, kegiatan di Studio Wayang Kota Tua memperluas pengalaman peserta terhadap seni dan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan masyarakat Jakarta. Peserta berkesempatan mendengarkan langsung penjelasan mengenai proses pembuatan wayang sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.

Berkunjung ke Studio Wayang di Kota Tua
Langkah terakhir membawa peserta ke Studio Wayang Kota Tua, tempat tradisi lama itu masih dijaga hidup.
Mendengarkan penjelasan cara pembuatan Wayang
Di sana, seorang perajin menjelaskan bagaimana sehelai kulit perlahan menjelma tokoh wayang yang bercerita.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan artefak masa lalu, tetapi juga menghadirkan kembali nilai-nilai sejarah, seni, dan tradisi agar dapat dipahami serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kolaborasi Lintas Sektor

Giat “41 Mata Air” turut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya melalui dukungan bus Transjakarta dari Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta untuk mendukung mobilitas peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan.

Keterlibatan berbagai unsur — organisasi alumni, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat — menjadi kekuatan utama kegiatan ini. Terlebih, kehadiran akademisi dari Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste memberikan dimensi internasional pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut.

Bagi KAPPIJA21 dan PAGE, kolaborasi semacam ini menjadi penting untuk membangun ruang bersama yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan, tetapi juga pada keberlanjutan dampaknya bagi masyarakat.

Giat “41 Mata Air” pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan bersih pantai atau kunjungan budaya. Ia menjadi ruang kolaborasi untuk mempertemukan kepedulian lingkungan, pengabdian akademik, kebudayaan, dan hubungan antarmasyarakat. Dari pesisir Marunda hingga jejak sejarah Betawi dan ruang kebudayaan Kota Tua, kegiatan ini membawa satu pesan penting.

Merawat lingkungan dan menjaga budaya merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas generasi, institusi, dan batas negara.

KAPPIJA21
Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21  ·  Marunda & Kota Tua, Jakarta  ·  8 Agustus 2026
Scroll to Top