Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21 (KAPPIJA21) bersama Prakarsa Akademia Generasi Emas (PAGE) menggelar Giat “41 Mata Air” di kawasan pesisir Jakarta Utara, Sabtu, 8 Agustus 2026. Kegiatan ini memadukan kepedulian terhadap lingkungan, pengabdian kepada masyarakat, pendidikan, serta pelestarian seni dan budaya.
Giat “41 Mata Air” dilaksanakan di sejumlah lokasi yang memiliki nilai lingkungan dan sejarah, yakni Pantai Marunda, Rumah Si Pitung, Kampoeng Toegoe, dan Studio Wayang Kota Tua. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen untuk bersama-sama merawat lingkungan sekaligus mengenalkan kekayaan sejarah dan budaya Jakarta kepada generasi muda.

Kegiatan ini juga bersinergi dengan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie serta melibatkan Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Jakarta Utara.
Kolaborasi semakin luas dengan hadirnya perwakilan dosen dari berbagai perguruan tinggi, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Mereka berasal dari Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Universitas Pasundan Bandung, Universiti Malaysia Sarawak, dan Universidade da Paz Timor-Leste.
Keterlibatan lintas perguruan tinggi tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi ruang kolaborasi akademik yang melampaui batas institusi dan negara. Lingkungan, kebudayaan, serta masyarakat menjadi titik temu untuk membangun pengetahuan dan kepedulian secara bersama.
Dari unsur pemerintahan dan masyarakat setempat, kegiatan turut dihadiri Lurah Marunda Viktor Deo Parulian Marbun, Ketua Dekopinda Jakarta Utara H. Endang Muchtar, serta Syaiful Rahman dari instansi pemerintah. Sementara itu, KAPPIJA21 diwakili oleh Wakil Sekretaris Jenderal Seni Asiati Bachsin bersama Wakil Ketua Imam Nuraryo.


Suasana penyambutan itu turut dimeriahkan oleh tarian Betawi yang dibawakan anak-anak remaja Marunda, sebelum rombongan bergerak turun ke pesisir untuk memulai kerja bersama.

Bersih Pantai dan Merawat Lingkungan Pesisir
Salah satu agenda utama Giat “41 Mata Air” adalah kegiatan bersih-bersih Pantai Marunda. Para peserta bersama-sama membersihkan kawasan pesisir sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan keberlanjutan wilayah pesisir.

Kegiatan lingkungan tersebut menjadi bagian dari pesan yang lebih luas bahwa pelestarian alam tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia pendidikan, pemerintah, dan berbagai organisasi untuk membangun kebiasaan menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Dari kawasan pesisir, rangkaian kegiatan berlanjut pada pengenalan sejarah dan kebudayaan Betawi. Rumah Si Pitung menjadi salah satu titik penting dalam kegiatan untuk mengenal kembali sosok, kisah, dan artefak yang berkaitan dengan sejarah masyarakat Betawi — sosok legendaris yang ternyata bukan sekadar mitos, dan jejaknya tercatat nyata dalam sejarah Betawi.

Menghidupkan Kembali Kekayaan Budaya Jakarta
Selain lingkungan, aspek kebudayaan menjadi bagian penting dari Giat “41 Mata Air”. Peserta mendapatkan ruang untuk mengenal dan mengapresiasi seni keroncong dan dondang sayang, sekaligus menelusuri kekayaan budaya Jakarta melalui berbagai situs dan ruang kebudayaan.
Kunjungan ke Kampoeng Toegoe menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan sejarah dan kebudayaan yang tumbuh di Jakarta. Sebagai bentuk penghormatan, plakat diserahkan oleh Imam Nuraryo, Wakil Ketua KAPPIJA21, kepada Lisa Michels, pelestari budaya keroncong Toegoe — warisan keturunan Portugis di Jakarta yang terus dijaga hingga kini.

Sementara itu, kegiatan di Studio Wayang Kota Tua memperluas pengalaman peserta terhadap seni dan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan masyarakat Jakarta. Peserta berkesempatan mendengarkan langsung penjelasan mengenai proses pembuatan wayang sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.


Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan artefak masa lalu, tetapi juga menghadirkan kembali nilai-nilai sejarah, seni, dan tradisi agar dapat dipahami serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kolaborasi Lintas Sektor
Giat “41 Mata Air” turut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya melalui dukungan bus Transjakarta dari Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta untuk mendukung mobilitas peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan.
Keterlibatan berbagai unsur — organisasi alumni, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat — menjadi kekuatan utama kegiatan ini. Terlebih, kehadiran akademisi dari Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste memberikan dimensi internasional pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut.
Bagi KAPPIJA21 dan PAGE, kolaborasi semacam ini menjadi penting untuk membangun ruang bersama yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan, tetapi juga pada keberlanjutan dampaknya bagi masyarakat.
Giat “41 Mata Air” pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan bersih pantai atau kunjungan budaya. Ia menjadi ruang kolaborasi untuk mempertemukan kepedulian lingkungan, pengabdian akademik, kebudayaan, dan hubungan antarmasyarakat. Dari pesisir Marunda hingga jejak sejarah Betawi dan ruang kebudayaan Kota Tua, kegiatan ini membawa satu pesan penting.
Merawat lingkungan dan menjaga budaya merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas generasi, institusi, dan batas negara.
